Sejak duduk dia bangku Sekolah Dasar (SD) selama tiga bulan lebih ini, anak saya Faza banyak sekali melontarkan pertanyaan dan juga protes. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan kepada saya setiap dia pulang sekolah. Seperti misal,
“Mah, orang Jepang itu Tuhannya siapa?”
“ Kebanyakan orang Jepang itu menyembah matahari ka..” jawab saya sebisanya.
“ loh kok, Tuhannya Matahari sih mah?” tanyanya lagi.
“ya...itu sudah keyakinan mereka..dan kita wajib menghormatinya,” jawab saya lagi.
“Setiap agama itu Tuhannya beda-beda ya mah?” tanya faza lagi.
“iya...karena itu adalah keyakinan..dan, kita wajib menghormati keyakinan agama orang lain,” jawabkulagi.
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini ia lontarkan biasanya ketika di Sekolah ia habis menerima pelajaran yang menerangkan berbagai macam agama yang ada di Nusantara, beserta tempat peribadatan dan hari rayanya.
Kadang setelah pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan sudah dijawab oleh sayapun, ia tetap mengerutkan dahi, seperti berfikir dan mencoba menemukan jawabannya sendiri.
Pernah juga ia melontarkan pertanyaan seperti ini,
“Mah...Jiddah(nenek) itu kan sudah tua, berarti sebentar lagi mati dong?” tanyanya.
“Setiap makhluk hidup itu pasti akan mati ka, ngga Cuma jiddah..mama, papa, kamu juga pasti akan mati, Cuma kita ngga tahu kapan waktunya,” jawabku mencoba memberikan penjelasan.
“trus..kalo aku udah gede nanti, suami aku siapa dong mah’” tanyanya lagi.
“wadduh...ya mama gak tau dong kak....tapi, kehidupan itu sudah di atur sama Allah ka...entah itu rezeki..jodoh..ataupun mati. Mama aja dulu gak tau kalo suami mama itu papa kamu,” jelasku lagi.
Sampai-sampai ketika saya menyuruhnya belajar ketika akan menghadapi mid semesternya kemarin saja ia melontarkan pertanyaan yang juga protes menurut saya.
“Mamah...kenapa aku harus belajar terus sih?,” tanyanya ketika itu. Dan pertanyaan ini tidak ia lontarkan hanya sekali saja. Pada waktu-waktu lain juga ia sering melontarkan pertanyaan semacam ini.
Mendengar pertanyaannya ini saya sampai mengatur nafas dan mencoba berfikir mencari jawaban yang sekiranya tepat buat dia. Karena sayapun khawatir, pertanyaan ini menunjukkan kebosanannya akan belajar.
“Belajar adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT faza... karena Dia yang telah memberikan kita rizki...sehingga faza bisa menjadi anak cantik, dan pintar. Juga rizki dalam bentuk materi, karena dengan rizkinya Faza bisa diberikan kesempatan untuk menuntut ilmu di sekolah. Nah..kalau Faza tidak belajaar...berarti Faza tidak bersyukur sama Allah..” jelasku ketika itu.
Pernah juga ia protes kepada saya, dan bagi saya ini adalah pukulan sangat telak untuk saya pribadi. Ketika itu, ia sedang asyik main dengaan adiknya, Alysha. Melihat mereka asyik bermain, tidak ada salahnya saya akhirnya menyalakan komputer dan membuka account saya di Facebook. Tidak lama berselang, karena mungkin merasa tidak diperhatikan, ia menghampiri saya dan bertanya dengan nada protes,
“Mah..kenapa sih mamah facebookan mulu?? Emangnya itu kerja mah???” protesnya kala itu.
Saya hanya tersenyum dan jadi tidak enak hati. Langsung saja saya matikan komputer dan minta maaf sama dia.
“sori deh ka...abisnya mama di cuekin sama kamu siy....ya udah mama facebookan deh!!” kataku sekenanya.
Beberapa hari terakhir ini keinginannya untuk belajar memang agak sedikit kendur. Entah karena pengaruh hobinya yang doyan nonton TV atau memang jenuh. Dan sebagai orang tua pun saya khawatir ia jenuh.Makanya, sayapun akhirnnya tidak terlalu mem-push dia untuk belajar ini dan itu. Sekedar mengerjakan PR dan mengulang beberapa soal2 pelajaran, bagi saya itu sudah cukup untuk me-review kembali pelajaran-pelajaran di sekolahnya. Namun begitu, alhamdulillah nilai-nilai di sekolahnya memang tidak terlalu mengecewakan.
Kembali ke faza yang suka tanya dan protes, mengingatkan saya kepada masa kecil saya dulu. Saya masih ingat ketika kecil saya berfikir dari mana asalnya uang dan juga makanan-makanan terutama makanan dan minuman kemasan seperti halnya sirup. Waktu kecil saya menyangka makanan dan minuman itu dihasilkan oleh pohon. Dalam arti pohon itu berbuah langsung makanan or minuman botol itu. Karena ketika itu saya pernah melihat sebuah pohon besar menghiasi satu lembar halaman sebuah majalah, dan di ujung-ujung pohon itu ada botol-botol minuman. *Setelah besar dan mengerti saya tahu kalau itu adalah iklan minuman di majalah*.
Entah kenapa, seingat saya, banyak pertanyaan-pertanyaan masa kecil saya, tidak pernah saya tanyakan langsung ke orang tua saya waktu itu. Saya hanya bertanya dalam hati dan mencoba mencari jawabannya sendiri.
Mungkin semua orang, di usia—usia Faza sekarang, memang sedang banyak berfikir dan bertanya. Seperti halnya Nabi Ibrahim kecil yang yang mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di kepalanya tentang Tuhan.
Hujan masih mengguyur diluar sana. Setiap rintik jatuhnya seperti merangkai sebuah irama kesedihan. Seperti kesedihan yang sedang dialami dua orang kawan, yang baru saja ditinggal orang yang sangat disayangi dan dicintainya. Aku bisa merasakan kehilangan dan kesedihan yang mendalam yang sedang mereka alami. Batapa nafas menjadi begitu sesak....betapa kehidupan ini tiba-tiba begitu sunyi....betapa seolah-olah aliran darah di tubuh ini menjadi beku seketika....betapa dunia menjadi begitu kejam...dan betapa hidup terasa tidak adil!!.. karena Tuhan menjemputnya, disaat cinta dan kasih sayang sedang mereka pupuk.
Tapi Tuhan memang punya kuasa. Kita tidak akan tahu rahasia dibalik semua cobaan yang diberikanNya kepada kita. Dan kita...yang masih diperkenankan olehNya, menikmati khasanah rezeki di bumi ini hanya bisa berdo’a.
Dan, saya yakin....kalian kuat dan tabah dalam menghadapi cobaan ini. Amien
Ada hal yang menarik yang saya pelajari belum lama ini dari anak saya Faza. Di usianya yang sudah enam tahun, memang boleh di bilang terlambat dibandingkan anak--anak yang lain dalam satu hal "belum bisa bersepeda roda dua". Sepeda yang dibelikan papanya lebih dari satu tahun yang lalu memang sangat jarang digunakan. Pernah sekali-dua kali digunakannya untuk pergi TPA di Mushollah belakang komplek perumahan kami.Namun itupun menggunakan roda empat.
Faza memang agak terbilang malas, dan bisa jadi hal itu ditularkan oleh saya juga sebagai ibunya. Sepulang sekolah ia pasti langsung menonton televisi atau maen game di komputer. Sampai saya harus menyuapi makann siangnya sementara ia tetap asyik dengan gamenya. Kadang saya amat mengalami kesulitan untuk menyudahinya. Pada akhirnya, untuk menghentikan hobbinya maen game ataupun nonton film kartun kegemarannya, saya harus bersikap keras. Saya tahu hal ini menyakiti hati dia, tapi saya tidak punya pilihan lain. Kalau lagi sulit dikasih pengertian untuk berhenti main game, saya langsung memutus aliran listrik di dalam rumah. Kemudian membujuknya dengan memabacakan buku cerita sebagai penghantar tidur siangnya.
Bangun tidur siangpun, hal yang dilakukannya pertama kali kalau tidak menyalakan komputer, ia pasti menyalakan TV dan menonton tayangan anak2. Belum lagi tempat tinggal kami yang memang sangat sepi, membuatnyaa enggan untuk keluar rumah mencari teman. Sehingga mainannya seperti sepedanya juga, yang disediakan di rumah tidak terlalu dia perdulikan.
Namun sekitar tiga hari yanglalu dia tiba-tiba bertanya kepada saya, "Mah, kok aku belum bisa naik sepeda roda dua sih?" Aku tersenyum mendengarnya, "Bagaimana bisa naik sepeda, kalau di coba aja ngga pernah sama faza" jawabku kala itu. Pernah memang beberapa kali ia mencoba dibantu oleh saya atau papannya, tapi selalu putus asa dan tidak mau melanjutkan usahanya untuk sampai bisa bersepeda roda dua. Dan sayapun tidak bisa memaksa dia tentunya.
Setelah ia mengatakan itu, ternyata tanpa sepengetahuan saya ia mengeluarkan sepeda dari garasi rumah. Dan mencobanya sendiri. Saya yang kebetulan sedang asyik juga di depan komputer, mulanya tidaak menyadari hal itu. Karena saya pikir ia tidur bersama adiknya. Ketika saya tahu ia sedang berusaha sendiri mencoba mengayuh sepedanya dan mengatur keseimbangan tubuhnya, saya sangat senang dan bangga luar bisa. Terlebih lagi, tidak butuh berhari-hari ia mencoba sampai bisa, karena malamnya ia sudah lumayan lancar mengayuh sepedanya dengan menjaga keseimbangan tubuhnya diatas kendaraan roda dua itu.
Sebuah kalimat yang ia ucapkan setelah itu dengan senyum mengembang diwajahnya, "Naek sepeda itu enak yah mah" ujarnya.
Layaknya orang yang sedang kecanduan, esoknya sepulang sekolah ia langsung mengambil sepeda dan mengayuhnya mengitari beberapa blok di komplek perumahan kami. Sebenarnya saya melarangnya, karena siang itu udara lumayan panas, dan belum lagi ia sedang berlatih puasa. Tapi saya tidak bisa melarangnya kecanduan dengan mainan barunya itu. Ia kembali ke dalam rumah hanya untuk minta susu dan makan karena memang masih belum kuat puasa sehari penuh.
Setelah selesai minum susu dan makan, ia keluar lagi dan bermain sepeda lagi sampai akhirnya terjatuh dan luka bungsrut di beberapa bagian tubuhnya. Tangisnya minta ampuunnn..memecah siang itu. namun akhirnya dia diam dan tertidur.
Saya sebenernya agak khawatir, sehabis jatuh itu ia tidak mau lagi bermain sepeda. Tapi ternyata, pas bangun tidur ia tetap semangat untuk mengayuh sepedanya kembali.
Faza...seperti layaknya anak--anak yang lain, akan selalu memberi inspirasi buat kita2 yang sudah dewasa. Bahwa segala sesuatunya, apapun yang kita inginkan, bila itu diiringi dengan kemauan yang keras insya Allah akan tercapai.
Surabaya, 16 Agustus 2010
Jumat, 11 Juni 2010
Lagi-lagi berita yang ikut mencoreng perilaku moral negeri ini mengemuka. Kalau beberapa bulan lalu, perilaku moral dan mental para pejabat yang bobrok (yang suka korup dan makan uang rakyat), sekarang giliran generasi mudanya. kali ini beritanya tentang generasi muda negeri ini, yang kebetulan adalah seorang artis papan atas, yang suka melakukan adegan porno serta mendokumentasikannya. Dalam seminggu terakhir ini, ratusan juta mata rakyat Indonesia seperti terhipnotis tentang berita ini. Berita yang sebenarnya tidak layak untuk dibesar-besarkan apalagi diulang-ulang. Karena yang mendengar, membaca dan melihat berita ini tidak hanya orang dewasa, namun ggenerasi kita yang masih di bawah umur. Belum lagi berita dan juga adegan filmnya tersebar luas di internet dan tentu saja menjadi berita yang paling hit di jejaring sosial. Dengan kemajuan teknologi dan akses internet yang sangat mudah sekarang ini, belum lagi pengguna internet sekarang yang juga sebagian besar adalah anak baru gede, maka dengan mudah video ini diakses oleh semua kalangan.
Sebenarnya bukan kali ini saja, kasus2 yang mengarah ke pornografi terjadi di negeri ini. Tidak hanya dari kalangan artis yang memang notabene kehidupannya tidak jauh dari hedonisme, mahasiswa, bahkan juga wakil rakyat kita yang duduk di senayan sana, pernah tersandung kasus ini. Masih segar ingatan kita, beberapa tahun lalu, berita heboh tentang dua mahasiswa Itenas dan Unpad Bandung, yang video mesumnya beredar di kalangan masyarakat luas. Meskipun penggunaan internet saat itu tidak semudah sekarang, juga pemakai jaringan internet juga masih sangat minim dan hanya kalangan tertentu, namun tidak sedikit generasi kita yang ikut mengkonsumsi video ini.
Mahasiswa saat itu tercoreng. "Apakah selain belajar, para generasi kita yang notabene mahasiswa ini sibuk disa engan urusan esek-esek?". Dan "Apakah bisa kita mengharapkan generasi-generasi kita bisa menggantikan posisi para pemimpin-pemimpin kita saat ini ke depan, bila saat ini disibukkan oleh percintaan dan juga esek-esek?".
Tidak hanya itu, ternyata ada juga wakil rakyat kita yang suka beradegan mesum dengan pasangan bukan resminya dan mendokumentasikannya juga. Lagi-lagi perilaku bejad para politisi kita menghiasi halaman republik ini. Ternyata, beberapa diantara mereka tidak hanya senang merampas uang rakyat, tapi juga penganut perilaku seks bebas. Sehingga menjadi sebuah pertanyaan besar di kepala kita. "Bagaimana mereka bisa mengurusi kepentingan rakyat dan hajat hidup orang banyak, bila mereka juga disibukkan dengan aktifitas percintaan dan esek-esek?".
Pergaulan bebas di kalangan pelajar, dan juga mahasiswa sudah bukan rahasia umum lagi. Banyak memang generasi kita yang mengukir prestasi di negeri ini, namun tidak kalah banyaknya generasi kita yang mengisi hari-harinya untuk hal-hal yang tidak berguna. Dan, tayangan-tayangan televisi yang tidak mendidik menurut saya juga memberi peran penting bagi rusaknya moral bangsa ini. Yang pada akhirnya, generasi kita adalah generasi yang apatis dan juga hedonis. Mereka lebih menyukai mall-mall, kafe, ketimbang perpustakaan. Mereka lebih senang melihat sinetron televisi, selain juga meniru perilaku para aktor dan aktris di dalamnya, ketimbang membaca buku. Mereka sibuk membicarakan mode pakaian, baju, rambut yang sedang ngetrend, ketimbang membicarakan pelajaran. Mereka sibuk mengeksplorasi perasaan mereka terhadap lawan jenis, ketimbang mengeksplorasi pengetahuan yang mereka miliki.
Tidak sedikit di friendlist account jejering sosial yang saya miliki, adalah ABG-ABG yang juga seorang pelajar. Karena sebagian besar memang adalah kerabat dekat. Dan tidak sedikit dari status-status yang mereka tulis di sana adalah tentang pergaulan mereka, yang tidak jauh dari pacar dan hedonisme (senang-senang). Dan tidak sedikit dari generasi pelajar kita saat ini yang memanfaatkan jejaring sosial anya untuk mencari teman kencan. Kecanggihan teknologi saat ini, dan juga kemudahan mengakses internet, tidak digunakan mereka untuk hal-hal yang positif.
Perilaku-perilaku generasi muda saat ini, menjadi PR yang penting, tidak hanya buat para orang tua, namun juga pemimpin negeri ini. Dan sedari dini, orang tua harus mengarahkan anak-anaknya ke arah yang positif. Juga ada baiknya, sedari dini para orang tua mengarahkan anak2nya ke arah logika berfikir, bukan perasaan. Karena, bila logika bermain, maka mereka akan cenderung melakukan hal-hal yang positif. Namun, bila mereka mengutamakan perasaan, maka mereka akan selalu bersenang-senang dan menghabiskan waktu untuk sebuah perasaan yang tidak jelas.
Pada akhirnya negeri ini akan mengalami apa yang dinamakan "lost generation". Karena tidak sedikit dari generasi muda kita uga adalah pencandu narkoba. Kalau boleh saya menyebut negeri ini dengan sebutan negeri "complete of crisis". Karena negeri ini tidak hanya krisis moral, juga masih banyak krisis yg dialaminya, yakni krisis kepercayaan kepada pemimpin juga wakilnya, krisis listrik, krisis pangan, dll..................
Namanya Lastri. Lengkapnya Tri Lastri. Waktu pertama kali melihatnya saya memang sangat kaget. Usianya baru menginjak 14 tahun kala itu, namun badannya memang kecil seperti usia 10 tahunan. Agak berat hati sebenarnya menerima dia untuk menjadi asisten di rumah saya (PRT = Pembantu Rumah Tangga). Karena pada saat itu saya baru saja melahirkan anak kedua saya, sehingga untuk menjadi pembantu pastinya banyak pekerjaan yang berat. Namun, mau tidak mau karena saya sudah terlanjur menyebar informasi bahwa saya membutuhkan seorang pembantu rumah tangga. Waktu itu seorang Bapak yang mengaku sebagai uwaknya mengantarkannya ke rumah orang tua saya. Menurut uwaknya, Lastri yang berasal dari sebuah desa di daerah jawa tengan ini (saya lupa daerahnya) merengek kepadanya untuk ikut serta ke kota mencari pekerjaan. Hanya sebuah tas usang berwarna hitam yang isinnya beberapa helai baju yang dibawanya kala itu. Miris memang. Diusianyaa remajanya, dimana anak2 yang lain sedang menghabiskan masa remajanya dengan tawa bersama teman2, ia justru mencari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Belum lagi, banyak keponakan saya yang seusia dia. Sehingga bila melihat ia, saya membayangkan keponakan-keponakan yang masih terbilang manja. Jangankan pusing memikirkan uang jajan, sekedar membereskan tempat tidur dan kamarnya sendiripun para keponakan saya ini harus melalui bantuan sang pembantu rumah tangga. Menurutnya, ia ingin membantu orang tuanya mencari uang untuk membbiayai adik-adiknya bersekolah. Orangtuanya hanya seorang petani penggarap lahan milik orang lain. Dan menurut lastri, ibunya yang juga membantu bapaknya bertani di ladang pernah bekerja di Jakarta sebelumnya. Sebagai seorang pembantu juga. Ketika uwaknya menyerahkan Lastri kepada saya, tidak lupa saya menyerahkan beberapa uang ratusan ribu rupiah kepadanya sebagai belas kasih.
Jadilah Lastri ini pembantu rumah tangga di rumah saya. Saya tidak terlalu membebankan pekerjaan yang terlalu berat kepadanya. Karena untuk urusan mencuci dan menyetrika, saya juga punya asisten yang lain lagi, namun tidak menetap di rumah saya. Lastri hanya sekedar menyapu, mengepel dan menemani anak saya yang pertama bermain. Ia juga kadang membantu menyuapi anak saya makan, karena saya memang sangat repot dengan si kecil. Orang tua saya juga sangat prihatin dengan Lastri. Kadang-kadang bila ibu saya mengirimkan makanan untuk anak saya, tidak lupa ada makanan juga untuk lastri ini.
Sekitar dua minggu berjalan, tiba-tiba uwaknya yang perempuan dan laki-laki datang menjenguk lastri di rumah. Saya menerimanya dengan baik. Ketika ngobrol panjang sana-sini, uwaknya yang perempuan ternyata berniat ingin juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Kebeneran, kakak ipar yang rumahnya persis di samping rumah saya memang sedang membutuhkan seorang pembantu rumah tangga. Akhirnya jadilah uwaknya pembantu rumah tangga di rumah kakak ipar saya di sebelah. Sebenarnya, dengan berat hati juga. Karena kakak ipar saya merasa berdosa mempekerjakan seseorang yang masih mempunyai tanggung jawab terhadap anak dan suaminya di rumah bedeng miliknya yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari rumah saya. Namun, karena ia merengek butuh uang dan ingin bekerja kakak ipar saya akhirnya menerimanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang hanya bergaji sekian ratus ribu rupiah per bulan.
Tiap hari lastri selalu melakukan pekerjaan sebaik mungkin. Namun tetap saja, saya setengah hati mempekerjakannya. Karena saya merasa melakukan hal yang sangat buruk. Mengekploitasi anak di bawah umur. Pernah suatu hari saya menawarkan kepadanya untuk melanjutkan sekolahnya kembali. Namun ia tidak mau. Ia hanya ingin bekerja saja dan mencari uang.
Hampir satu bulan lastri bekerja di rumah saaya, dan saya merasa ia tetap anak2 yang baik. Sampai suatu ketika saya menemukan sebuah gunting bayi di dalam dompetnya yang disimpan rapi di tas hitam miliknya. Ketika itu, suami saya mengajaknya meenemani anak saya Faza renang. Saya sebenarnya hanya sekedar iseng ingin tahu apa saja sih yang dibawa anak ini. Ketika melihat ggunting bayi di dompetnya itu, saya memang sedikit kecewa. Karena sebelumnya, saya berkali-kali bertanya kepadanya apakah melihat gunting bayi yang berwarna kuning itu. Karena saat itu memang bayi saya kuku-kukunya sudah waktunya untuk digunting. Setiap ditanya oleh saya, ia pasti menggeleng dan bilang tidak tahu. Memang, barang itu sepele dan tidak berharga. Namun, satu kepercayaan saya waktu itu sedikit luntur karenanya.
Tapi, karena memang ia masih anak-anak menurut saya, maka saya mengabaikan kemudian. Saya hanya berfikir, ia datang dari sebuah kampung dan bergelut dengan kemiskinan setiap harinya. Hanya untuk melihat barang2 yang unik dan menarik seperti gunting bayi ini adalah hal yang jarang ditemuinya sebelumnya. “Yah...namanya juga anak-anak” kata suami saya ketika saya mengukan hal ini. Dan saya yakin, seperti anak-anak kebanyakan, kita masih bisa mengajarkan kebaikan-kebaikan kepadanya.
Hampir genap satu bulan ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah saya. Pada suatu hari tepatnya hari minggu, uwaknya yang bekerja di rumah kakak ipar saya di sebelah mengajaknya mengunjungi suami dan anak2nya dan berniat menginap semalam. Terlihat wajah senang dan gembira terlihat di wajahnya. Saya tidak berat hati mengijinkannya. Lagi pula karena hari itu hari minggu, saya memang bisa mengunjungi orang tua saya yang letaknya tidak jauh dari rumah. Karena sesuatu hal, saya juga akhirnya menginap di rumah orang tua saya. Rumah saya saya biarkan kosong. Esok harinya, sore hari saya kembali ke rumah, ketika tiba-tiba kakak ipar saya yang lain mengabarkan bahwa lastri beberapa jam lalu datang dan pamit untuk pulang kampung. Menurut kakak ipar saya ini, lastri menangis karena harus pulang ke kampungnya melihat ibunya yang katanya tiba-tiba sakit karena memikirkan dia.
Saya akui, bahwa saya kehilangan. Andai ia bisa tinggal lama di rumah saya, mungkin banyak yang bisa saya lakukan untuk anak itu. Paling tidak, ada niat saya yang tulus untuk memutus mata rantai dari dirinya di kemudian hari, agar tidak melahirkan calon-calon pembantu kembali.
Tanpa terasa enam tahun sudah aku melewati masa ini. Masa yang sangat menakjubkan sebagai seorang ibu.
Tepat enam tahun yang lalu, seorang bayi perempuan dengan berat 4 kg dan panjang 51 cm lahir ke dunia. Enam tahun yang lalu, ketika pagi-pagi buta, aku dan suami bergegas ke RS dimana aku biasa memeriksakan kehamilanku selama ini. Karena sejak jam dua dini hari, air ketuban yang merupakan makanan si jabang bayi sudah keluar banyak. Beberapa orang bidan, atas saran dokterku, langsung memberikan suntikan induksi yang gunanya merangsang si jabang bayi agar bergerak keluar. Sebelumnya, aku juga sudah diberitahu bahwa ada kemungkinan dilakukannya operasi Caesar bila tidak ada kemajuan.
Namun Alhamdulillah, tujuh jam kemudian sang bayi lahir dengan normal. Sulit dibayangkan, dengan badanku yang kecil ini bisa mengeluarkan bayi yang besar dan sangat montok dan sehat. Meskipun memang, aku hampir kehabisan tenaga untuk bisa mengeluarkannya. Sampai-sampai setelah selesai persalinan, seluruh badanku terlihat sangat kuning, namun tidak sampai mendapat transfusi darah. Lafadz adzan segera di kumandangkan oleh suamiku di telinga sang bayi yang kami beri nama “Faza Safina Hamzah”.
Kami beri nama Faza, agar dalam mengarungi kehidupannya nanti ia menjadi orang yang sangat beruntung dalam bermacam hal. Beruntung bisa merasakan nafas dunia yang fana ini. Beruntung bisa membantu orang banyak di masanya kelak. Beruntung bisa melakukan banyak hal dalam peradaban dunia di kehidupan nantinya.
Saat ini aku hanya berdoa, semoga masih diberikan nafas untuk mengiringi waktu-waktu kehidupannya sampai ia dewasa nanti.
Selamat ulang tahun sayang….doa kami selalu menyertai perjalanan hidupmu..
Dua hari ini berturut-turut liat berita bunuh diri seseorang dengan cara yang nekad. Yang pertama, seorang laki-laki di jember yang terjun dari baliho setinggi 40 meter. Meninggal seketika dengan kepala yang hancur. Yang kedua, laki-laki juga, di probolinggo yang nekad menebas lehernya sendiri di depan khalayak ramai. Aneh-aneh saja kelakuan mereka. Padahal tanpa mereka menjemput maut sendiri, maut juga bakalan menjemput mereka nanti. Cuma memang kita tidak tahu kapan maut menjemput kita, karena itu rahasia Ilahi. Namun, kita tetap dianjurkan untuk mengingat kematian, agar kita bisa lebih memaknai hidup ini. Apa yang akan kita lakukan bila kita tahu beberapa hari kedepan kita akan mati? Tentu saja kita akan dengan semangat menuai kebaikan, dan memperbanyak pahala untuk bekal di alam sana. Namun, bagaimana dengan kedua orang yang nekad bunuh diri itu yah? apakah kenekad-annya memang sudah dipersiapkan? dengan banyak menuai kebajikan, melakukan hal-hal yang positif yang akan menambah pahala mereka?
Yah...namanya nekad...ya tetep nekad...tanpa persiapan tentunya....
Pagi - pagi sudah dipusingkan dengan masalah sampah. Sampah-sampah yang menumpuk di tempat sampah samping rumah, sudah beberapa hari tidak diangkut oleh tukang pengangkut sampah. Kebeneran, ketika saya sampai di rumah sehabis mencari sarapan pagi keluar, tukang tukang pengakut sampah lewat, dan saya langsung menegur mengapa sampah2 yang sudah menumpuk itu tidak diangkut beberapa lama.
Si tukang sampah ternyata sengaja tidak mengangkut, karena kesal dengan kresek-kresek besar yang penuh dengan popok bayi tiap harinya. Kebeneran, tetangga depan rumah, yang memang mempunyai bayi menumpang membuang sampah ke tempat sampah samping rumah saya itu.
Saya sih tidak mengambil pusing, meskipun sang tetangga rumah tidak basa-basi terlebih dahulu untuk membuang sampahnya disitu, karena toh pastinya akan di angkut juga oleh tukang sampah nantinya.
Memang, kalau dilihat sangat jorok. Apalagi tempat sampahnya memang persis di pinggir jalan. Dalam hati sih memang saya sangat keberatan dengan perilaku tetangga saya itu. Cuma saya tidak mau ambil pusing, apalagi sampai ribut cuma hanya masalah sampah semata.
Si tukang pengangkut sampah itu ternyata tahu, kalau kresek-kresek besar yang berisi popok bayi itu bukan berasal dari rumah saya. Dan meminta saya unutk menegur tetangga saya itu, untuk tidak membuang sampahnya lagi kesitu. Dan si tukang sampah mengancam untuk tidak akan mengangkut sampah2 yang ada di bak sampah itu, kalau besok masih ada kresek2 yang berisi popok2 yang memang sangat terkesan jorok. Akhirnya, saya membicarakan hal ini kepada satpam penjaga komplek kami, yang memang sangat dekat dengan para warga disini dan menjadi orang kedua setelah bapak RT setempat. Dan, pak satpam sendiri ternyata memang sudah tahu permasalahan sampah-sampah yang sudah menumpuk beberapa hari di samping rumah saya itu. Dia sebelumnya memang sudah akan membicarakan hal ini kepada tetangga depan saya, untuk membuang sendiri sampah-sampah joroknya ini ke tempat lain.
Kalau si tukang pengeruk sampah saja menolak dengan sampah-sampah yang demikian itu, bagaimana dengan alam ini?
Sebenarnya, sejak lama menjadi pemikiran saya tentang sampah-sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga saya pribadi setiap harinya. Sampah-sampah yang selalu saja banyak, dari mulai plastik-plastik kemasan makanan, sampai bekas-bekas makanan dan sayuran, selalu saya buang menjadi satu. Dan hampir tiap hari saya selalu dilanda "feeling quilty" perasaan bersalah terhadap diri sendiri, karena menjadi salah satu orang yang turut dalam pencemaran lingkungan.
Memang ada di pemikiran saya untuk mengolah sampah-sampah basah yang berasal dari sayuran dan makanan. Sehingga saya cukup membuang sampah-sampah kering saja. Namun memang, karena keterbatasan yang saya miliki, sampai saat ini hal itu belum sempat saya lakukan, meskipun itu tidak bisa dijadikan sebuah alasan.
Lupa.....kalau ini tuh awal bulan April. "April mooopppp..." mungkin itu maksudnya...
Sebenernya, gua orang yang gak suka ikut trend-trendan. Mau itu lagi ngetrennya hari valentine, yang pada ber bunga-bunga gitu, atawa mo lagi pada ngetrend rambut di bonding...di cepak.... gua sih gak peduli banget. Karena gua pikir kok gak penting yah?? Gua..ya gua ini...apa adanya gua saat ini... "april moop" pun gua taunya dari film spongebob squarepants yang menjadi tontonan favorite anak-anak gua.
Tapi, apa emang ini kebeneran atau ngga, gua juga ngga ngerti deh.. yang pasti pagi-pagi..pas banget gua baru nyalain komputer and masang koneksi internet, gua udah dikerjain ama orang.
Temen deket sih...cuma sempet keki dibuatnya. Tapi ya itu dia tadi" April Mooooppppp" So...gua ngga boleh kesel..apalagi BT.
Tiba - tiba aja tuh temen deket gua bilang di chat "dikirim PM kok gak di bales..sombong banget yah!"
Nah..gua bingung deh..perasaan ngga ada pesan dari siapa-siapa di email ataupun di inbox Fb gua. Karena hampir tiap hari, gua selalu nyempetin buka-buka email gua sekalian facebook-an tentunya.
Ya udah..gua kirim pesen lagi kan ke inboxnya. Maksudnya nyuruh dia kirim pesen lagi ke gua, karena penasaran juga "pesen apa yah kira2??"
Eh, gak taunya dengan enaknya dia bilang "sorry, emang gua ngga kirim email apa-apa kok ke elo". Sekali lagi....."April Moooopppppp"....so, gua tidak harus kesel apalagi BT.
Saat inilagi ramai-ramainya yang namanya markus alias makelar kasus. Tidak kalah menarik yang menjadi bintang sinetron "Markus" Gayus tambunan, juga bak aktris yang tiba-tiba melejit ke permukaan. Menjadi perbincangan di semua kalangan masyarakat, tak terkecuali di jejaring sosial facebook. Ada saja postingan-postingan yang nyeleneh berkaitan dengan nama sang bintang "Gayus". Seperti "Gayus lu, ah.." atau "Gayus banget sih loe..". Kata makelar kasus (Markus) mungkin baru-baru beberapa tahun terakhir ini saja mencuat ke permukaan dan akrab di telinga kita. Tapi, yang namanya "kerja di tempat basah" di sebuah instansi pemerintah, dari sejak kecil saya sudah mendengarnya.
Sering pada saat saya kecil dahulu, ketika menguping pembicaraan orang tua - orang tua yang sedang bergosip membicarakan si "anu" yang hartanya melimpah, mereka mengatakan "yah...wajar sajalah...dia kan kerja enak..di tempat basah". Sebagai anak kecil yang masih polos, saat itu saya tidak mengerti apa itu yang namanya "kerja di tempat basah".
Yang pasti menurut pembicaraan mereka waktu itu, kerja di tempat basah adalah kerja yang menghasilkan uang banyak. Saya sempat berfikir "kok bisa yah...basah-basahan, tapi dapet duit banyak...??". Pastinya di masyarakat kebanyakan, sampai saat inipun masih menganggap orang yang "kerja di tempat basah" yang nota bene adalah bagian dari Markus (makelar kasus) adalah orang berhasil dan sukses.
Keriteria sukses pada masyrakat awam saat ini memang masih melihat sejauh mana materi yang bisa ia kumpulkan. Bila dari kerjaannya ia bisa membeli mobil lebih dari satu dengan merk bangus, serta bisa punya rumah mewah dengan perlengkapan yang serba modern, mau itu di dapat dari hasil catut mencatut atau tak lain adalah hasil korupsi, masyarakat pada umumnya menganggap mereka, orang-orang seperti ini adalah orang sukses.
Terhadap orang sukses ini, biasanya masyarakat lebih hormat, segan, karena secara materi lebih dari yang lainnya.
Saya berharap, masyarakat ke depannya lebih cerdas setelah kasus ini, dan menganggap orang-orang seperti Gayus ini tak lebih baik dari pencopet, pejambret yang sering berkeliaran di terminal-terminal, bus kota dan kereta api.
Malem ini niatnya mau menulis beberapa hal sedang dipikirkan sepanjang hari ini di kepala. Tapi herannya, setiap kali buka yang namanya facebook, kelupaan deh ama niat awal nulis. Emang ngga ada bosennya faceebook-an, meskipun kadang bosen juga liat status kawan2 yang aneh-aneh. Kecuali status temen2 yang ngeyel dan bikin gua ketawa cekikikan.
Pernah suatu kali, ada temen yang posting di wallnya tentang sesuatu atau lebih pasnya sebuah curhat. Awalnya gua berfikir, kalo dia sedang ada masalah dengan pasangannya. Biasanya gua jarang kasih koment ke temen2 yang posting statusnya masalah pribadi, cuma karena iseng gua kasih aja koment yang sedikit nyeleneh.
Tapi anehnya, pas dia bales kok justru langsung menyebut nama orang deket gua. Dan dari balesan-balesan komentar dari temen2nya yang lain, secara jelas postingannya ditujukan langsung ke orang terdekat gua dan menyebut namanya secara jelas.
Sempet ngerasa aneh aja sih, kok bisa nge-pas gini yah..?? padahal sebelumnya tidak ada niat buat komentar apapun karena menurut gua itu adalah masalah pribadinya. Dan bagi gua, masalah pribadi sebenarnya kurang baik bila harus di posting, karena semua orang akan tahu kalau kita sedang bermasalah atau mempunyai masalah. Tapi, pas saat gua mengomentari postingannya dengan sangat tidak serius atau mungkin sedikit nyeleneh, ternyata postingannya di tujukan kepada orang deket gua. Dari balasan komentarnya sih, di bumbui dengan hal berbau canda, tapi kok..."ngga lucu" yah..???
Sebenarnya sih sah-sah saja, namun bagaimanapun situs tersebut adalah jejaring sosial. Tidak perlu saya memberitahukan secara langsung kepada orang terdekat saya tentang apa yang dibicarakan di wallnya, ribuan orang yang tergabung dalam situs ini mungkin akan tahu. Karena setiap postingan yang kita lakukan, akan selalu tampil pada saat frind list kita membuka accountnya. Karenanya, kalau kita langsung menyebut nama seseorang langsung, apalagi tentang keburukan, adalah hal yang sangat tidak etis.
Kalau saya memandang situs ini adalah sarana untukuk share berbagai macam pengetahuan, dan juga tali silaturrahmi. Makanya, kadang saya tidak terlalu serius bila membuat sebuah postingan. Meskipun memang ada beberapa yang serius, seperti kejadian2 aneeh dan lucu yang saya jumpai, juga kalau mendengar kasus-kasus yang memuakkan di negeri ini.
Dalam jejaring ini memang dengan mudah kita bertemu dengan kawan-kawan lama yang mungkin sudah belasan ataupun puluhan tahun tidak bertemu. Dan pastinya, orang - orang yang dulu hilang seperti tertelan bumi, ketika ditemukan kembali disini telah menjadi orang yang lain pula. Tapi memang ada hal-hal yang tidak berubah dari kawan-kawan kita itu. Seperti gilanya, banyolnya, nyelenehnya, mungkin masih ada kesamaan dengan adanya dia dahulu.
Tapi tetap saja, kita tidak serta merta memposisikan dirinya seperti seseorang yang kita kenal di masa lalu. Ini yang harus kita camkan.
Tadi malam saya dengan iseng membuka-buka profile kawan yang saat ini sedang berduka, karena beberapa hari yang lalu baru ditinggalkan oleh istri tercintanya. Tidak hanya istrinya yang meninggalkan dirinya, karena enam bulan yang lalu anak tercintanya juga telah meninggalkannya lebih dulu.
Dari foto-foto yang ada di album facebooknya yang di post beberapa bulan lalu, tergambar kemesraan mereka berdua. Ada juga foto-foto kebersamaan mereka dengan buah hatinya yang saat itu masih kira-kira umur 4 bulan.
Ketika anaknya di rumah sakit dan di rawat di ICU RS. Harapan kita, terlihat kesedihan yang mendalam istrinya dari komen2 foto-foto yang terpampang.
Betapa hidup ini memang hanya sebuah titipan semata, yang kita tidak akan pernah tau kapan titipan itu akan diambil oleh yang berhak. Beberapa bulan lalu mereka masih menikmati kebersamaan kesempurnaan hidup yang luar biasa lengkap, ada pasangan dan juga anak. Tapi dalam waktu singkat, enam bulan kemudian, kebersamaan itu sudah tidak ada lagi. Dua titipan yang sangat berharga dalam hidupnya sudah diambil kembali kepada yang punya.
Secara spontan, saya langsung memandangi anak-anak saya yang sedang tertidur pulas saat itu. "Bagaimana kalau ini tertimpa pada saya?? dan mereka berdua..buah hati saya juga di ambil olehNya"??
Saat itu saya hanya berdoa, "Ya Allah, berilah mereka kesempatan merasakan indahnya kehidupan ini dengan ombak dan karang yang ada di dalamnya. Dan semoga mereka bagian dari orang-orang bisa menjalankan ajaran dan petunjukMu. Dan berilah kesempatan saya membimbing mereka sampai mereka siap menantang kerasnya kehidupan ini". Amien....
Dalam perjalanan tadi pagi ke PDAM kota Surabaya, radio mobil kami nyalakan dan kami mendengar siaran langsung di sebuah radio swasta yang sedang wawancara langsung dengan pak Susno Duadji (mantan kabaraeskrim) mabes POLRI yang saat ini sedang naik daun lantaran membeberkan adanya makelar kasus di tubuh kepolisian kita. Menurut pak Susno, Gayus Tambunan, oknum pajak yang saat ini sedang buron dan dan Andi kosasih teman bisnisnya bukan makelar kasus. Yang menjadi makelar kasus adalah orang-orang yang menjadi sutradara dari kasus ini. Sutradara dalam hal ini adalah orang-orang yang melakukan penyidikan dalam kasus gayus, sementara gayus dan andi kosasih sendiri adalah aktor dari sebuah sinetron atau sandiwara kasus tersebut.
Saya yakin pada saat kasus ini dibongkar oleh pak Susno, masyarakat kita tidak merasa kaget ataupun aneh. Yang merasa kaget adalah pihak yang laksana kebakaran jenggot pada saat menerima berita tersebut. Karena bagaimanapun kasus-kasus seperti ini sudah sangat dekat dengan masyarakat secara umum, cuma saja tidak diungkap ke permukaan dan pada umumnya masyarakat sudah menganggap kejadian seperti ini adalah hal yang wajar dan biasa.
Contohnya dalam struktur pemerintahan paling rendah di negara ini yakni kelurahan. Tidak sedikit kasus-kasus penggelapan dana yang dilakukan oleh pejabat-pejabat kelurahan. Mungkin tidak hanya penggelapan, perampokan dana secara terang - terangan juga kerap dilakukan oleh pejabat kelurahan. Contohnya saja di kelurahan tempat saya tinggal. Pada saat warga miskin mendapatkan jatah Bantuan Langsung Tunai (BLT). Dana yang harusnya di terima oleh yang berhak, langsung di potong secara terang-terangan sebanyak puluhan ribu rupiah. Belum lagi pembagian gas elpiji untuk warga. Di daerah saya, yang menerima pembagian secara gratis gas elpiji dari pemerintah bisa di hitung dengan jari.
Ini hanyalah sebuah contoh drama atau sinetron kecil yang di buat oleh sutradara tidak terkenal dan dari sebuah PH kecil yang tidak ternama pula. Namun dampaknya sangat merugikan masyrakat langsung. Masyarakat kecil yang harusnya menerima dana BLT secara utuh dan mendapatkan perangkat gas elpiji secara cuma-cuma, harus berjuang lagi mencari uang sekedar membeli perangkat gas elpiji karena haknya telah di selewengkan oleh pejabat yang berwenang.
Bagaimana dengan sinetron-sinetron lain yang di buat oleh seorang sutradara - sutradara kawakan dari rumah produksi - rumah produksi yang besar..??
Suara debur ombak yang memecah tepian pantai serta hamparan bintang-bintang dari gugusan galaksi bima sakti yang terpampang indah dilangit, menghapus lelah perjalanan kami menuju pantai Balekambang, Malang selatan yang letaknya kurang lebih 65 Km ke arah selatan dari kota Malang.
Cukup melelahkan memang, karena kami baru tiba sekitar pukul sembilan malam. Karena rencananya ke balekambang ini mendadak, jam satu siang kami baru berangkat dari kota surabaya. Cuaca hari ini memang sangat cerah, namun tetap saja jalur porong macet karena kendaraan yang akan menuju berbagai kota di Jawa Timur menumpuk di jalur ini, belum lagi hari itu adalah long weekend.
Tiba di kota malang sekitar jam setengah lima sore. Setelah menikmati bakso malang cak man di Jl. A. Yani Malang, kami mampir ke pom bensin untuk mengisi bahan bakar dan juga sholat.
Setelah itu kami langsung melanjutkan perjalanan kami menuju ke arah kepanjen, malang. Dari kepanjen, kami menuju ke arah gondanglegi kemudian ke arah kecamatan Bantur. Dari sini perjalanan dilanjutkan hingga desa srigonco. Semakin lama perjalanan semakin menantang. Bagaimana tidak? Jalanan yang sangat gelap karena tidak ada penerangan jalan sedikitpun, serta jalan yang juga sangat sempit, apalagi kalau berpapasan dengan kendaraan lain. Selain itu kami juga melewati perkebunan - perkebunan tebu yang sangat luas serta hutan jati dengan pohon - pohon besar di kiri kanan jalan. Belum lagi tanjakan yang lumayan terjal dan panjang.
Saat itu saya sempet down juga, karena selama perjalanan melewati perkebunan tebu, perbukitan yang terjal dan hutan jati dengan pohon-pohon besar dikiri kanan jalan, tidak satupun kendaraan yang kami temui. Belum lagi kami hanya berempat saja, yakni saya, suami dan anak2 yg masih kecil2 dan tertidur lelap di jok belakang mobil.
Lega rasanya ketika akhirnya tiba di pos penjagan pantai. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp. 5000,- dan Rp. 2000,- untuk setiap kepala serta Rp. 2000 untuk karcis kendaraan, kami langsung memasuki pantai balekambang. Ketika tiba, suasana sangat gelap dan sepi, juga hanya dua mobil dan sepeda motor yang terparkir di pinggir pantai. Selesai menyantap makan malam di warung makan yg ada disitu, kami lalu menuju arah pantai lebih kedalam. Ternyata suasana di sini lebih ramai. Beberapa kendaraan mobil dan motor terparkir di pinggir-pinggir pantai. Diantara dari mereka juga memasang tenda dan dan menyalakan api unggun sambil menyanyi-nyanyi di iringi sebuah gitar. Dan semakin malam, suasana pantai semakin ramai saja. Anak kami faza dan Alysha yang terbangun sejak tiba di pantai balekambang, berteriak kegirangan melihat hamparan bintang-bintang yang terang di langit. Karena kami tidak membawa tenda, maka kami memutuskan untuk tidur saja di mobil.
Pagi-pagi sekali kami sudah bangun dengan sajian hamparan pasir putih, deburan ombak, serta birunya air laut yang sangat sepadan dengan langit putih yang cerah. masih terlihat samar pagi itu.
Faza dan Alysha yang juga akhirnya terbangun, langsung tak sabar untuk berenang di tepian. Sebelum menemani anak-anak berenang di pantai, terlebih dahulu kami menyambangi sebuah pura megah yang ada di atas sebuah pulau kecil yakni pulau ismoyo. Puranya sendiri bernama pura ismoyo dan diresmikan pada tahun 1985. Memang, ada tiga buah pulau kecil yang terdapat disana, yakni pulau ismoyo, wisanggeni dan Anoman. Kita hanya melalui sebuah jembatan dengan lebar sekitar 1,5 meter untuk menuju pura di pulau ismoyo. Bila air laut sedang pasang, maka pulau ini seolah mengapung ditengah lautan, inilah mengapa disebut balekambang. Bale (balai), kambang (mengambang).
Di pura inilah berbagai upacara adat sakral jalanidhi puja di gelar setiap tahunnya. Masyarakat setempat juga kerap menggelar upacara adat tahunan seperti suroan yang banyak mengundang wisatawan dalam maupun luar negeri.
Setelah puas melihat-lihat pura di pulau yang sangat kecil itu, juga pesona birunya laut yang terhampar luas dan tepian pantai yang memanjang dan sedikit melengkung di ujungnya, kami lalu mengajak anak kami berenang pantai. Kami memilih pantai disisi kanan yang masuk dalam wilayah hutan konversi Balekambang, karena pantainya lebih sepi. Namun terlebih dahulu kami harus melalui sebuah muara yang airnya terasa dingin. Karena bila memintas melalui bawah jembatan ombaknya terlalu tinggi. Biasanya akan dikenakan tiket sebesar Rp. 2000 lagi untuk memasuki wilayah ini. Namun karena masih sangat pagi, para penjaga loketnya belum datang. Seolah tidak ada puasnya kami menikmati birunya laut serta hamparan pasir putih pantai balekambang. Karena sesekali tidak jauh dari tepian pantai terlihat segerombolan ikan-ikan yang juga sedang menikmati hangat mentari pagi saat itu. Tidak sampai menunggu matahari meninggi, kami memutuskan untuk kembali, karena perut sudah sangat terasa lapar.
Semakin siang, pantai semakin ramai dengan pengunjung, juga penjaja makanan dan cinderamata. Namun sayang, keelokan pantai ini tidak didukung dengan sarana MCK yang kurang memadai.
Belum lama ini, seorang kawan meminta aku mambantunya menulis beberapa naskah yang sedang dikerjakannya. Naskah dokumenter untuk sebuah televisi lokal. Sebenarnya sih..aku sendiri yang menawarkan bantuan secara sukarela kepadanya. Selain buat membantu kawanku ini yang sedang dikejar deadline, juga buat sekalian merefresh otak yang sudah sekian lama tidak menulis dalam bentuk berita ataupun naskah.
Awalnya rada bingung juga ketika kawanku ini hanya memberiku beberapa gambar serta sedikit bahan-bahan untuk naskah yang akan aku kerjakan nanti, karena selebihnya aku harus menggoogling sejumlah bahan untuk kelengkapannya. Lantaran memang sudah tidak terbiasa lagi, agak sedikit ragu dengan naskah yang aku hasilkan pada akhirnya. Tapi ternyata, dari naskah yang aku buat, kawanku lebih tepatnya teman baikku sejak lama ini hanya sedikit saja yang di edit olehnya. Kesalahanku hanya pada terlalu luas memberikan sebuah uraian. Dan, ini adalah hal yang sangat menyenangkan bagiku. Selain mendapat pengetahuan baru tentang naskah yang aku tulis saat itu, ternyata jari-jari ini masih punya kemampuan menulis meskipun tidak sebagus yang diharapkan. Sudah hampir sepuluh tahun aku sudah tidak melakukan hal yang berhubungan dengan dunia tulis menulis, sejak aku memutuskan untuk keluar dari Voice of Human Right (VHR) sebuah radio di bawah naungan YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) tempatku bernaung sebagai jurnalis untuk terakhir kalinya. Dunia yang telah memberi warna lain dalam kehidupanku, dan yang telah memberi pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga buatku pribadi. Karena dari beberapa profesi yang pernah aku jalani, seperti pegawai kantoran dengan fasilitas yang enak, tetap dunia jurnalistik tidak tergantikan di hati. Menyaksikan pergolakan politik secara langsung pada pemilihan umum multi partai untuk pertama kalinya setelah runtuhnya rezim orde baru, yang pada akhirnya membawa Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjadi Presiden RI adalah pengalaman yang tidak pernah terlupakan.Setelah keluar dari dunia sangat menyenangkan, karena memang aku terjun ke dunia ini tidak seberapa lama, karena hanya mengalami dan mengikuti pergolakan politik di dua era kepemimpinan yakni era kepemimpinan Gus Dur dan era kepemimpinan Megawati, full komunikasi dengan kawan-kawan sesama jurnalis putus sama sekali. Keadaan yang tidak memungkinkan saat itu, membuat ruang lingkup kehidupanku sangat terbatas. Belum lagi aku dihadapkan dengan tanggung jawab sebagai ibu dari anak-anakku. Kesibukanku mengurusi rumah tangga dan anak-anak seolah tidak memberi ruang barang sedikit buatku untuk hanya sekedar membaca buku sekalipun. Aku pun saat itu sempat menjadi orang yang gaptek (gagap teknologi)karena tidak mengerti apa itu blog, multiply atau segala macamnya. Yang aku tahu saat itu di dunia per-internetan, hanyalah email pribadi dan chatting. Meskipun sejak enam tahun yang lalu aku sudah bergabung dengan situs jejaring sosial (Freindster), dimana aku bisa bergabung kembali dengan kawan-kawan lama namun aku memang menjadi anggota jaringan yang tidak aktif. Lantaran memang belum ada akses internet pribadi di rumah. Belum lagi, kemajuan internet dan aksesnya tidak semudah seperti sekarang ini yang penggunanya sudah merambah ke kalangan bawah. Kemajuan teknologi yang sedemikian pesat memang membawa dampak positif bagi setiap orang dan juga aku secara pribadi. Kehidupan yang telah lama aku tinggalkan seolah mencuat di permukaan, membawa lembaran-lembaran semangat dan ide-ide yang tidak pernah habis di kepala.
Beberapa waktu terakhir ini, entah mengapa aku selalu memikirkan tentang kematian. Kematian....memang sebuah harga mati yang tidak bisa kita pungkiri sebagai makhluk hidup di dunia ini.Dan itu hanyalah persoalan waktu, yang entah kapannya kita tidak pernah tahu. Memang, dalam dua bulan terakhir ini, beberapa kali saya mendapat kabar kematian. Kematian seorang kawan. Kematian seorang tetangga. Kematian seorang guru bangsa. Bahkan kematian seekor peliharaan.
Mengingat kematian, saya menjadi ingat kawan saya Simon, kawan saya dari Universitas Moestopo Jakarta. Setahun lebih yang lalu, ketika saya bergabung dengan situs jejaring sosial facebook, saya langsung mensearch beberapa kawan lama saya yang sudah lama tidak ada kabar berita. Termasuk kawan Simon ini.
Dan memang hanya beberapa kawan lama saja waktu itu yang ketemu. Dengan kawan sesama aktifis Pers Mahasiswa seperti Abdullah (IKIP), Dadan (UMB) malah baru beberapa bulan yang lalu. Kami dulu memang sama-sama aktif di pers mahasiswa di kampus, dan juga aktif dalam Forum Pers Mahasiswa Jakarta (FPMJ), yang merupakan gabungan dari organisasi pers mahasiswa beberapa perguruan tinggi di Jakarta.
Dari kawan Dadanlah saya mengetahui bahwa Simon sudah meninggal sejak lama. Ketika mendengar berita kematian tentang seseorang, sejumlah peristiwa masa lalu, pada saat kebersamaan dengan kawan ini seolah terekam dengan baik di kepala.
Pernah waktu itu ketika kami akan mengadakan pertemuan rutin yang saat itu akan di adakan di kampus IKIP Jakarta. Sebagai tuan rumah, kawan Abdullah menelpon kami satu persatu untuk sekedar mengingatkan pertemuan tersebut. Kebeneran saat itu bulan puasa. Sehabis sahur, Abdullah yang biasa kami panggi dullah menelpon saya dan juga kawan-kawan yang lainnya termasuk Simon. Jelas saja Simon yang memang non-muslim mencak-mencak (bukan marah tapinya loh..) karena saat itu dia sekeluarga sedang tertidur pulas.
Saya pun tidak akan pernah lupa guyonan yang dilontarkan seorang kawan Ires kepada Simon pada saat pertemuan di Kampus IISIP Jakarta. Kala itu tahun 1998, dimana beberapa elemen gerakan mahasiswa (tidak hanya pers saja) sudah bergabung. Ires, yang saat itu baru saja tiba dengan membawa satu karung rambutan bertanya kepada Simon, " Simon...sebenarnya nama lengkap loe itu siapa sih? Simontok atau Simonyet?". Kontan saja kawan-kawan yang hadir saat itu tertawa terbahak-bahak.
Kalau mungkin kawan simon saat ini masih hidup, mungkin ia pun akan ikut bergabung dengan kawan-kawan sekedar beromantisme dengan secuil perjuangan yang telah kita lakukan dahulu.
Kematian memang sebuah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh kita manusia. Dan seperti yang diungkapkan bapak Komarudin Hidayat dalam bukunya Psikologi Kematian, "Yang paling dekat dengan kita adalah sesuatu yang pasti. Dan yang pasti terjadi adalah kematian". Jadi kematian adalah sesuatu yang paling dekat dengan kita.
Semoga ketika kita meninggalkan dunia ini, bisa meninggalkan sesuatu yang baik yang bisa dilanjutkan oleh penerus kita nantinya.
Buat kawan Simon..semoga mendapat tempat yang layak disisiNya..Amien..
Ketika membaca salah satu situs di internet tentang cerita miring dokter Indonesia yang dibahas di majalah Time, tiba-tiba saja saya teringat liburan awal tahun kemarin ke Jogjakarta. Hari pertama kami di jogja, anak kami Faza badannya tiba-tiba demam. Sebelumnya, memang dia mengeluh telinganya yang sakit. Saat itu karena hari sudah malam, kami hanya memberi dia obat penurun panas yang memang selalu saya bawa setiap saya berpergian kemanapun. Dan kami juga yakin, demam tersebut diakibatkan telinganya yang sakit itu.
Esoknya, pagi-pagi sekali, setelah bertanya-tanya dokter anak yang paling dekat kepada si tuan rumah yang kebeneran kerabat dekat kami di Tangerang, kamipun langsung bersiap2. Sekitar setengah tujuh pagi, kami langsung berangkat ke dokter yang kami tuju tidak jauh dari Mall Ambarukmo, beserta mbak Y (anak kerabat kami) yang kebeneran putrinya juga sedang batuk pilek berat.
Ketika sampai di rumah dokter anak tersebut, ternyata sang dokter sudah tidak praktek pagi lagi. Akhirnya kami mencari alternatif dokter lain. Tidak jauh dari dokter anak yang kami tuju tadi, ada dokter praktek juga. Dari plang yang dipasang kebeneran sang dokter praktek pagi dan juga sore hari. Setelah mengetuk pagar (karena tidak ada bel) seorang wanita setengah baya datang menghampiri. langsung saja saya bertanya. "Dokternya ada bu?" tanya saya. "Mau periksa?" tanya si ibu yang kelihatannya adalah seorang pembantu rumah tangga. setelah saya mengiyakan, si ibu tersebut menyuruh kami menunggu sebentar. Tidak lama kemudian ia mempersilahkan kami masuk. Kami melewati garasi mobil dahulu untuk sampai di ruangan praktek sang dokter. posisi ruangannya persis di samping garasi dan bersebelahan dengan dapur rumah pribadi dokter. Dan menurut saya, untuk sebuah ruangan praktek, sangat tidak privasi dan nyaman.
Ketika saya memasuki ruangannya, rasa tidak nyaman dan sangsi pun langsung menghantui perasaan saya. Ruangan yang sempit, dengan tumpukan-tumpukan buku yang berdebu dan lusuh memenuhi semua penjuru ruangan. Rak-rak yang terbuat dari papan berjejer di dinding ruangan, dan tentunya dipenuhi tumpukan2 buku pula. Saya sempat tertegun lama melihat judul buku-buku tersebut. Memang rata-rata buku yang saya perhatikan adalah buku kedokteran. Dan saya sempat berfikir, bahwa buku ini adalah bacaan si dokter sejak ia duduk di bangku kuliah. Sebuah tempat tdiur kecil tempat periksa pasien memang ada di pojok ruangan tersebut. Dan juga sebuah meja kerja yang penuh dengan tumpukan2 kertas berada di tengah ruangan. Sempat saya menjatuhkan sebuah koper yang disusun di pinggir ruangan karena kesenggol. Koper2 kotor dan berdebu itupun mungkin berisi buku2 ataupun berkas2 yang sudah tidak terpakai. Satu kaata yang keluar ketika saya tiba di runaagan itu " serem banget nih ruangan." Lama juga saya dan juga mbak Y harus menunggu di ruangan yang tidak nyaman itu sampai si dokter masuk ruangan. Kesangsian saya langsung hilang melihat sang dokter yang sudah cukup umur, masuk ruangan itu dan menyapa kami. Dalam hati saya yakin sang dokter adalah dokter berpengalaman, dilihat dari usianya yang sudah lanjut. Oleh karenanya kami harus menunggu lama, karena jalannya sang dokter yang sudah tidak gagah lagi.
Kemudian sang dokter memeriksa faza anak saya, dan dilanjutkan memeriksa si kecil yang berusia 6 bulan anaknya mbak y ini. Kepada saya, dokter mengatakan telinga faza terkena infeksi. Kemudian sang dokter langsung menuliskan resepnya. Menurut saya, dokter ini sangatlah lama hanya untuk menulis resep yang terdiri dari dua jenis obat. Namun hati kecil ini mengatakan, mungkin karena usianya, dokter ini tidak terlalu lincah hanya untuk menulis sebuah resep sekalipun.
Begitu pula ketika menulis resep untuk putrinya mbak Y ini. Belum lagi, yang membuat aneh, ketika menulis resep kedua, sang dokter kehabisan kertas resep, dan mencari kertas resep yang tercecer diantara tumpukan kertas2 dan map2 yang ada di mejanya. Dan kertas resepnya yang berhasil ia temukan pun sudah sangat kotor.
Setelah selesai, kami menanyakan biayanya kepada sang dokter. Dokter itupun memberitahukan kepada kami berdua untuk membayar 200 ribu rupiah untuk masing2 resep yang telah ia tulis. Kami berdua sedikit kaget. Karena bagi kami itu sangat mahal untuk dokter umum biasa. Sayapun sering ke dokter spesialis di Tangerang, dan tidak semahal si dokter tua ini. Namun, saya sedikit berpikiran positif, mungkin memang dokter ini dokter yang sangat profesional dan ampuh dalam memberikan resep.
Sebelum kami pulang, dokterpun tidak lupa untuk mengingatkan saya menukar resep itu ke apotik. Dan sedikit bertanya dimana kami tinggal. Kami pun menjawab singkat, " dekat dok, di janti,".
Setelah dari dokter tersebut, kami langsung pulang dan tidak lebih dulu mampir ke apotik. Karena memang masih pagi dan apotik masih jarang yang buka. Sayapun khawatir ade alysha yang saya tinggal masih tertidur keburu bangun dan menangis.
Setelah kembali ke rumah kerabat saya itu, papanya faza berniat langsung ke apotik sembari mengisi bensin mobil yang sudah menipis. Pergilah papanya berdua dengan faza mencari apotik yang sudah buka. Lama juga saya menunggu papanya pulang dari apotik. Sekitar setengah sebelas, dan hampir dua jam papanya baru tiba. Saya langsung menanyakan obat yang baru saja ia beli. Namun saya kaget ketika suami saya mengatakan, "Dari tiga apotik yang saya kunjungi, tidak ada satupun yang mengenal obat yang diresepin dokter itu," kata papanya faza. "loh kok bisa" saya bertanya balik.
Jadi, menurut pihak apotik, yang di tulis oleh dokter itu bukan nama obat, namun nama penyakit. Dan itupun dikatakan sang apoteker setelah bertanya kepada salah satu dokter yang sedang jaga (karena kebetulan apotiknya jadi satu dengan dokter praktek). Namun ada satu obat jenis puyer yang memang ditulis secara benar oleh dokter ini. Tapi, karena kesangsian saya terhadap sang dokter, saya langsung membuang obat itu.
Begitu pula dengan resep untuk anaknya mbak Y ini. Kebetulan si mbak ini belum sempat membeli obatnya ke apotik. Namun sepupunya seorang apoteker yang kebetulan rumahnya bersebelahan juga mengatakan hal yang serupa terhadap resep itu. Salah satu obat yang diresepkan dokter itu tidak ia mengerti.
Sebenarnya pihak apotik menyuruh saya kembali kepada dokter itu dan mempertanggung jawabkan resep yang aneh tersebut. Namun, karena raga ini merasa sudah lelah, sementara hari sudah sangat siang dan sangat panas, saya dan suami mengikhlaskan saja dan melanjutkan liburan kami memperlihatkan eksetisme candi prambanan kepada buah hati kami, dan melupakan kejadian pagi itu.
Baru kali ini aku membaca sebuah buku yang menghanyutkan semua pikiranku bersama aliran kata demi katanya. Seolah semua yang menjadi kegelisahan dan pertanyaan - pertanyaan dalam hati tentang makna hidup dan kehidupan sedikit terbuka dan memberikan ruang jawab. Kehidupan memang tidak berhenti disini, ia akan terus berdialektika seiring dengan berjalannya waktu. Tokoh-tokoh yang diceritakan dalam buku ini, yaitu manusia istimewa yang mempunyai kelebihannya, hanya sebuah simbol dari kehidupan ini yang sebenarnya. Dimensi kelima, impian dari semua manusia istimewa yang diceritakan dalam buku ini, merupakan impian dari seluruh umat manusia pada hakikatnya. Dimana disana tidak ada lagi perang, kelaparan, kemiskinan, dan polusi. Tidak adanya lagi keterikatan manusia terhadap suku ataupun kebangsaan. karena mereka menyatukan dirinya dengan hati untuk kepentingaan bersama, atas nama satu semesta. Dan untuk berada disana memang membutuhkan sebuah evolusi yang sangat panjang.Karena hidup adalah sebuah proses, dan tinggal bagaimana kita menempatkan diri kita dalam sebuah proses kehidupan itu untuk mencapai sebuah tujuan hiduup yang sebenarnya. ILUMINASI sesuai dengan artinya memang memberikan sebuah pencerahan secara pribadi kepada diriku tentang makna hidup ini yang sebenar-benarnya. Meskipun butuh tiga hari melahap setiap lompatan demi lompatannya, karena kesibukan aku mengurusi dua buah hati, setidaknya telah memberi sebuah energi positif baru.
Terima kasih kepada dunia maya ini yang telah mempertemukan aku dengan Lisa Febriyanti sebagai penulis buku yang pada akhirnya dapat membaca karya anyarnya.