Namanya Lastri. Lengkapnya Tri Lastri. Waktu pertama kali melihatnya saya memang sangat kaget. Usianya baru menginjak 14 tahun kala itu, namun badannya memang kecil seperti usia 10 tahunan. Agak berat hati sebenarnya menerima dia untuk menjadi asisten di rumah saya (PRT = Pembantu Rumah Tangga). Karena pada saat itu saya baru saja melahirkan anak kedua saya, sehingga untuk menjadi pembantu pastinya banyak pekerjaan yang berat. Namun, mau tidak mau karena saya sudah terlanjur menyebar informasi bahwa saya membutuhkan seorang pembantu rumah tangga. Waktu itu seorang Bapak yang mengaku sebagai uwaknya mengantarkannya ke rumah orang tua saya. Menurut uwaknya, Lastri yang berasal dari sebuah desa di daerah jawa tengan ini (saya lupa daerahnya) merengek kepadanya untuk ikut serta ke kota mencari pekerjaan. Hanya sebuah tas usang berwarna hitam yang isinnya beberapa helai baju yang dibawanya kala itu. Miris memang. Diusianyaa remajanya, dimana anak2 yang lain sedang menghabiskan masa remajanya dengan tawa bersama teman2, ia justru mencari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Belum lagi, banyak keponakan saya yang seusia dia. Sehingga bila melihat ia, saya membayangkan keponakan-keponakan yang masih terbilang manja. Jangankan pusing memikirkan uang jajan, sekedar membereskan tempat tidur dan kamarnya sendiripun para keponakan saya ini harus melalui bantuan sang pembantu rumah tangga. Menurutnya, ia ingin membantu orang tuanya mencari uang untuk membbiayai adik-adiknya bersekolah. Orangtuanya hanya seorang petani penggarap lahan milik orang lain. Dan menurut lastri, ibunya yang juga membantu bapaknya bertani di ladang pernah bekerja di Jakarta sebelumnya. Sebagai seorang pembantu juga. Ketika uwaknya menyerahkan Lastri kepada saya, tidak lupa saya menyerahkan beberapa uang ratusan ribu rupiah kepadanya sebagai belas kasih.
Jadilah Lastri ini pembantu rumah tangga di rumah saya. Saya tidak terlalu membebankan pekerjaan yang terlalu berat kepadanya. Karena untuk urusan mencuci dan menyetrika, saya juga punya asisten yang lain lagi, namun tidak menetap di rumah saya. Lastri hanya sekedar menyapu, mengepel dan menemani anak saya yang pertama bermain. Ia juga kadang membantu menyuapi anak saya makan, karena saya memang sangat repot dengan si kecil. Orang tua saya juga sangat prihatin dengan Lastri. Kadang-kadang bila ibu saya mengirimkan makanan untuk anak saya, tidak lupa ada makanan juga untuk lastri ini.
Sekitar dua minggu berjalan, tiba-tiba uwaknya yang perempuan dan laki-laki datang menjenguk lastri di rumah. Saya menerimanya dengan baik. Ketika ngobrol panjang sana-sini, uwaknya yang perempuan ternyata berniat ingin juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Kebeneran, kakak ipar yang rumahnya persis di samping rumah saya memang sedang membutuhkan seorang pembantu rumah tangga. Akhirnya jadilah uwaknya pembantu rumah tangga di rumah kakak ipar saya di sebelah. Sebenarnya, dengan berat hati juga. Karena kakak ipar saya merasa berdosa mempekerjakan seseorang yang masih mempunyai tanggung jawab terhadap anak dan suaminya di rumah bedeng miliknya yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari rumah saya. Namun, karena ia merengek butuh uang dan ingin bekerja kakak ipar saya akhirnya menerimanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang hanya bergaji sekian ratus ribu rupiah per bulan.
Tiap hari lastri selalu melakukan pekerjaan sebaik mungkin. Namun tetap saja, saya setengah hati mempekerjakannya. Karena saya merasa melakukan hal yang sangat buruk. Mengekploitasi anak di bawah umur. Pernah suatu hari saya menawarkan kepadanya untuk melanjutkan sekolahnya kembali. Namun ia tidak mau. Ia hanya ingin bekerja saja dan mencari uang.
Hampir satu bulan lastri bekerja di rumah saaya, dan saya merasa ia tetap anak2 yang baik. Sampai suatu ketika saya menemukan sebuah gunting bayi di dalam dompetnya yang disimpan rapi di tas hitam miliknya. Ketika itu, suami saya mengajaknya meenemani anak saya Faza renang. Saya sebenarnya hanya sekedar iseng ingin tahu apa saja sih yang dibawa anak ini. Ketika melihat ggunting bayi di dompetnya itu, saya memang sedikit kecewa. Karena sebelumnya, saya berkali-kali bertanya kepadanya apakah melihat gunting bayi yang berwarna kuning itu. Karena saat itu memang bayi saya kuku-kukunya sudah waktunya untuk digunting. Setiap ditanya oleh saya, ia pasti menggeleng dan bilang tidak tahu. Memang, barang itu sepele dan tidak berharga. Namun, satu kepercayaan saya waktu itu sedikit luntur karenanya.
Tapi, karena memang ia masih anak-anak menurut saya, maka saya mengabaikan kemudian. Saya hanya berfikir, ia datang dari sebuah kampung dan bergelut dengan kemiskinan setiap harinya. Hanya untuk melihat barang2 yang unik dan menarik seperti gunting bayi ini adalah hal yang jarang ditemuinya sebelumnya. “Yah...namanya juga anak-anak” kata suami saya ketika saya mengukan hal ini. Dan saya yakin, seperti anak-anak kebanyakan, kita masih bisa mengajarkan kebaikan-kebaikan kepadanya.
Hampir genap satu bulan ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah saya. Pada suatu hari tepatnya hari minggu, uwaknya yang bekerja di rumah kakak ipar saya di sebelah mengajaknya mengunjungi suami dan anak2nya dan berniat menginap semalam. Terlihat wajah senang dan gembira terlihat di wajahnya. Saya tidak berat hati mengijinkannya. Lagi pula karena hari itu hari minggu, saya memang bisa mengunjungi orang tua saya yang letaknya tidak jauh dari rumah. Karena sesuatu hal, saya juga akhirnya menginap di rumah orang tua saya. Rumah saya saya biarkan kosong. Esok harinya, sore hari saya kembali ke rumah, ketika tiba-tiba kakak ipar saya yang lain mengabarkan bahwa lastri beberapa jam lalu datang dan pamit untuk pulang kampung. Menurut kakak ipar saya ini, lastri menangis karena harus pulang ke kampungnya melihat ibunya yang katanya tiba-tiba sakit karena memikirkan dia.
Saya akui, bahwa saya kehilangan. Andai ia bisa tinggal lama di rumah saya, mungkin banyak yang bisa saya lakukan untuk anak itu. Paling tidak, ada niat saya yang tulus untuk memutus mata rantai dari dirinya di kemudian hari, agar tidak melahirkan calon-calon pembantu kembali.
Surabaya, 11 Mei 2010
Jadilah Lastri ini pembantu rumah tangga di rumah saya. Saya tidak terlalu membebankan pekerjaan yang terlalu berat kepadanya. Karena untuk urusan mencuci dan menyetrika, saya juga punya asisten yang lain lagi, namun tidak menetap di rumah saya. Lastri hanya sekedar menyapu, mengepel dan menemani anak saya yang pertama bermain. Ia juga kadang membantu menyuapi anak saya makan, karena saya memang sangat repot dengan si kecil. Orang tua saya juga sangat prihatin dengan Lastri. Kadang-kadang bila ibu saya mengirimkan makanan untuk anak saya, tidak lupa ada makanan juga untuk lastri ini.
Sekitar dua minggu berjalan, tiba-tiba uwaknya yang perempuan dan laki-laki datang menjenguk lastri di rumah. Saya menerimanya dengan baik. Ketika ngobrol panjang sana-sini, uwaknya yang perempuan ternyata berniat ingin juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Kebeneran, kakak ipar yang rumahnya persis di samping rumah saya memang sedang membutuhkan seorang pembantu rumah tangga. Akhirnya jadilah uwaknya pembantu rumah tangga di rumah kakak ipar saya di sebelah. Sebenarnya, dengan berat hati juga. Karena kakak ipar saya merasa berdosa mempekerjakan seseorang yang masih mempunyai tanggung jawab terhadap anak dan suaminya di rumah bedeng miliknya yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari rumah saya. Namun, karena ia merengek butuh uang dan ingin bekerja kakak ipar saya akhirnya menerimanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang hanya bergaji sekian ratus ribu rupiah per bulan.
Tiap hari lastri selalu melakukan pekerjaan sebaik mungkin. Namun tetap saja, saya setengah hati mempekerjakannya. Karena saya merasa melakukan hal yang sangat buruk. Mengekploitasi anak di bawah umur. Pernah suatu hari saya menawarkan kepadanya untuk melanjutkan sekolahnya kembali. Namun ia tidak mau. Ia hanya ingin bekerja saja dan mencari uang.
Hampir satu bulan lastri bekerja di rumah saaya, dan saya merasa ia tetap anak2 yang baik. Sampai suatu ketika saya menemukan sebuah gunting bayi di dalam dompetnya yang disimpan rapi di tas hitam miliknya. Ketika itu, suami saya mengajaknya meenemani anak saya Faza renang. Saya sebenarnya hanya sekedar iseng ingin tahu apa saja sih yang dibawa anak ini. Ketika melihat ggunting bayi di dompetnya itu, saya memang sedikit kecewa. Karena sebelumnya, saya berkali-kali bertanya kepadanya apakah melihat gunting bayi yang berwarna kuning itu. Karena saat itu memang bayi saya kuku-kukunya sudah waktunya untuk digunting. Setiap ditanya oleh saya, ia pasti menggeleng dan bilang tidak tahu. Memang, barang itu sepele dan tidak berharga. Namun, satu kepercayaan saya waktu itu sedikit luntur karenanya.
Tapi, karena memang ia masih anak-anak menurut saya, maka saya mengabaikan kemudian. Saya hanya berfikir, ia datang dari sebuah kampung dan bergelut dengan kemiskinan setiap harinya. Hanya untuk melihat barang2 yang unik dan menarik seperti gunting bayi ini adalah hal yang jarang ditemuinya sebelumnya. “Yah...namanya juga anak-anak” kata suami saya ketika saya mengukan hal ini. Dan saya yakin, seperti anak-anak kebanyakan, kita masih bisa mengajarkan kebaikan-kebaikan kepadanya.
Hampir genap satu bulan ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah saya. Pada suatu hari tepatnya hari minggu, uwaknya yang bekerja di rumah kakak ipar saya di sebelah mengajaknya mengunjungi suami dan anak2nya dan berniat menginap semalam. Terlihat wajah senang dan gembira terlihat di wajahnya. Saya tidak berat hati mengijinkannya. Lagi pula karena hari itu hari minggu, saya memang bisa mengunjungi orang tua saya yang letaknya tidak jauh dari rumah. Karena sesuatu hal, saya juga akhirnya menginap di rumah orang tua saya. Rumah saya saya biarkan kosong. Esok harinya, sore hari saya kembali ke rumah, ketika tiba-tiba kakak ipar saya yang lain mengabarkan bahwa lastri beberapa jam lalu datang dan pamit untuk pulang kampung. Menurut kakak ipar saya ini, lastri menangis karena harus pulang ke kampungnya melihat ibunya yang katanya tiba-tiba sakit karena memikirkan dia.
Saya akui, bahwa saya kehilangan. Andai ia bisa tinggal lama di rumah saya, mungkin banyak yang bisa saya lakukan untuk anak itu. Paling tidak, ada niat saya yang tulus untuk memutus mata rantai dari dirinya di kemudian hari, agar tidak melahirkan calon-calon pembantu kembali.
Surabaya, 11 Mei 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar