Sejak duduk dia bangku Sekolah Dasar (SD) selama tiga bulan lebih ini, anak saya Faza banyak sekali melontarkan pertanyaan dan juga protes. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan kepada saya setiap dia pulang sekolah. Seperti misal,
“Mah, orang Jepang itu Tuhannya siapa?”
“ Kebanyakan orang Jepang itu menyembah matahari ka..” jawab saya sebisanya.
“ loh kok, Tuhannya Matahari sih mah?” tanyanya lagi.
“ya...itu sudah keyakinan mereka..dan kita wajib menghormatinya,” jawab saya lagi.
“Setiap agama itu Tuhannya beda-beda ya mah?” tanya faza lagi.
“iya...karena itu adalah keyakinan..dan, kita wajib menghormati keyakinan agama orang lain,” jawabku lagi.
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini ia lontarkan biasanya ketika di Sekolah ia habis menerima pelajaran yang menerangkan berbagai macam agama yang ada di Nusantara, beserta tempat peribadatan dan hari rayanya.
Kadang setelah pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan sudah dijawab oleh sayapun, ia tetap mengerutkan dahi, seperti berfikir dan mencoba menemukan jawabannya sendiri.
Pernah juga ia melontarkan pertanyaan seperti ini,
“Mah...Jiddah(nenek) itu kan sudah tua, berarti sebentar lagi mati dong?” tanyanya.
“Setiap makhluk hidup itu pasti akan mati ka, ngga Cuma jiddah..mama, papa, kamu juga pasti akan mati, Cuma kita ngga tahu kapan waktunya,” jawabku mencoba memberikan penjelasan.
“trus..kalo aku udah gede nanti, suami aku siapa dong mah’” tanyanya lagi.
“wadduh...ya mama gak tau dong kak....tapi, kehidupan itu sudah di atur sama Allah ka...entah itu rezeki..jodoh..ataupun mati. Mama aja dulu gak tau kalo suami mama itu papa kamu,” jelasku lagi.
Sampai-sampai ketika saya menyuruhnya belajar ketika akan menghadapi mid semesternya kemarin saja ia melontarkan pertanyaan yang juga protes menurut saya.
“Mamah...kenapa aku harus belajar terus sih?,” tanyanya ketika itu. Dan pertanyaan ini tidak ia lontarkan hanya sekali saja. Pada waktu-waktu lain juga ia sering melontarkan pertanyaan semacam ini.
Mendengar pertanyaannya ini saya sampai mengatur nafas dan mencoba berfikir mencari jawaban yang sekiranya tepat buat dia. Karena sayapun khawatir, pertanyaan ini menunjukkan kebosanannya akan belajar.
“Belajar adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT faza... karena Dia yang telah memberikan kita rizki...sehingga faza bisa menjadi anak cantik, dan pintar. Juga rizki dalam bentuk materi, karena dengan rizkinya Faza bisa diberikan kesempatan untuk menuntut ilmu di sekolah. Nah..kalau Faza tidak belajaar...berarti Faza tidak bersyukur sama Allah..” jelasku ketika itu.
Pernah juga ia protes kepada saya, dan bagi saya ini adalah pukulan sangat telak untuk saya pribadi. Ketika itu, ia sedang asyik main dengaan adiknya, Alysha. Melihat mereka asyik bermain, tidak ada salahnya saya akhirnya menyalakan komputer dan membuka account saya di Facebook. Tidak lama berselang, karena mungkin merasa tidak diperhatikan, ia menghampiri saya dan bertanya dengan nada protes,
“Mah..kenapa sih mamah facebookan mulu?? Emangnya itu kerja mah???” protesnya kala itu.
Saya hanya tersenyum dan jadi tidak enak hati. Langsung saja saya matikan komputer dan minta maaf sama dia.
“sori deh ka...abisnya mama di cuekin sama kamu siy....ya udah mama facebookan deh!!” kataku sekenanya.
Beberapa hari terakhir ini keinginannya untuk belajar memang agak sedikit kendur. Entah karena pengaruh hobinya yang doyan nonton TV atau memang jenuh. Dan sebagai orang tua pun saya khawatir ia jenuh.Makanya, sayapun akhirnnya tidak terlalu mem-push dia untuk belajar ini dan itu. Sekedar mengerjakan PR dan mengulang beberapa soal2 pelajaran, bagi saya itu sudah cukup untuk me-review kembali pelajaran-pelajaran di sekolahnya. Namun begitu, alhamdulillah nilai-nilai di sekolahnya memang tidak terlalu mengecewakan.
Kembali ke faza yang suka tanya dan protes, mengingatkan saya kepada masa kecil saya dulu. Saya masih ingat ketika kecil saya berfikir dari mana asalnya uang dan juga makanan-makanan terutama makanan dan minuman kemasan seperti halnya sirup. Waktu kecil saya menyangka makanan dan minuman itu dihasilkan oleh pohon. Dalam arti pohon itu berbuah langsung makanan or minuman botol itu. Karena ketika itu saya pernah melihat sebuah pohon besar menghiasi satu lembar halaman sebuah majalah, dan di ujung-ujung pohon itu ada botol-botol minuman. *Setelah besar dan mengerti saya tahu kalau itu adalah iklan minuman di majalah*.
Entah kenapa, seingat saya, banyak pertanyaan-pertanyaan masa kecil saya, tidak pernah saya tanyakan langsung ke orang tua saya waktu itu. Saya hanya bertanya dalam hati dan mencoba mencari jawabannya sendiri.
Mungkin semua orang, di usia—usia Faza sekarang, memang sedang banyak berfikir dan bertanya. Seperti halnya Nabi Ibrahim kecil yang yang mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di kepalanya tentang Tuhan.
Semolo waru, Surabaya......

