Selasa, 23 Februari 2010

bertemu dokter aneh di awal tahun 2010

Ketika membaca salah satu situs di internet tentang cerita miring dokter Indonesia yang dibahas di majalah Time, tiba-tiba saja saya teringat liburan awal tahun kemarin ke Jogjakarta. Hari pertama kami di jogja, anak kami Faza badannya tiba-tiba demam. Sebelumnya, memang dia mengeluh telinganya yang sakit. Saat itu karena hari sudah malam, kami hanya memberi dia obat penurun panas yang memang selalu saya bawa setiap saya berpergian kemanapun. Dan kami juga yakin, demam tersebut diakibatkan telinganya yang sakit itu.

Esoknya, pagi-pagi sekali, setelah bertanya-tanya dokter anak yang paling dekat kepada si tuan rumah yang kebeneran kerabat dekat kami di Tangerang, kamipun langsung bersiap2. Sekitar setengah tujuh pagi, kami langsung berangkat ke dokter yang kami tuju tidak jauh dari Mall Ambarukmo, beserta mbak Y (anak kerabat kami) yang kebeneran putrinya juga sedang batuk pilek berat.

Ketika sampai di rumah dokter anak tersebut, ternyata sang dokter sudah tidak praktek pagi lagi. Akhirnya kami mencari alternatif dokter lain. Tidak jauh dari dokter anak yang kami tuju tadi, ada dokter praktek juga. Dari plang yang dipasang kebeneran sang dokter praktek pagi dan juga sore hari. Setelah mengetuk pagar (karena tidak ada bel) seorang wanita setengah baya datang menghampiri. langsung saja saya bertanya.
"Dokternya ada bu?" tanya saya.
"Mau periksa?" tanya si ibu yang kelihatannya adalah seorang pembantu rumah tangga.
setelah saya mengiyakan, si ibu tersebut menyuruh kami menunggu sebentar. Tidak lama kemudian ia mempersilahkan kami masuk. Kami melewati garasi mobil dahulu untuk sampai di ruangan praktek sang dokter. posisi ruangannya persis di samping garasi dan bersebelahan dengan dapur rumah pribadi dokter. Dan menurut saya, untuk sebuah ruangan praktek, sangat tidak privasi dan nyaman.

Ketika saya memasuki ruangannya, rasa tidak nyaman dan sangsi pun langsung menghantui perasaan saya. Ruangan yang sempit, dengan tumpukan-tumpukan buku yang berdebu dan lusuh memenuhi semua penjuru ruangan. Rak-rak yang terbuat dari papan berjejer di dinding ruangan, dan tentunya dipenuhi tumpukan2 buku pula. Saya sempat tertegun lama melihat judul buku-buku tersebut. Memang rata-rata buku yang saya perhatikan adalah buku kedokteran. Dan saya sempat berfikir, bahwa buku ini adalah bacaan si dokter sejak ia duduk di bangku kuliah. Sebuah tempat tdiur kecil tempat periksa pasien memang ada di pojok ruangan tersebut. Dan juga sebuah meja kerja yang penuh dengan tumpukan2 kertas berada di tengah ruangan. Sempat saya menjatuhkan sebuah koper yang disusun di pinggir ruangan karena kesenggol. Koper2 kotor dan berdebu itupun mungkin berisi buku2 ataupun berkas2 yang sudah tidak terpakai. Satu kaata yang keluar ketika saya tiba di runaagan itu " serem banget nih ruangan."
Lama juga saya dan juga mbak Y harus menunggu di ruangan yang tidak nyaman itu sampai si dokter masuk ruangan. Kesangsian saya langsung hilang melihat sang dokter yang sudah cukup umur, masuk ruangan itu dan menyapa kami. Dalam hati saya yakin sang dokter adalah dokter berpengalaman, dilihat dari usianya yang sudah lanjut. Oleh karenanya kami harus menunggu lama, karena jalannya sang dokter yang sudah tidak gagah lagi.

Kemudian sang dokter memeriksa faza anak saya, dan dilanjutkan memeriksa si kecil yang berusia 6 bulan anaknya mbak y ini. Kepada saya, dokter mengatakan telinga faza terkena infeksi. Kemudian sang dokter langsung menuliskan resepnya. Menurut saya, dokter ini sangatlah lama hanya untuk menulis resep yang terdiri dari dua jenis obat. Namun hati kecil ini mengatakan, mungkin karena usianya, dokter ini tidak terlalu lincah hanya untuk menulis sebuah resep sekalipun.

Begitu pula ketika menulis resep untuk putrinya mbak Y ini. Belum lagi, yang membuat aneh, ketika menulis resep kedua, sang dokter kehabisan kertas resep, dan mencari kertas resep yang tercecer diantara tumpukan kertas2 dan map2 yang ada di mejanya. Dan kertas resepnya yang berhasil ia temukan pun sudah sangat kotor.

Setelah selesai, kami menanyakan biayanya kepada sang dokter. Dokter itupun memberitahukan kepada kami berdua untuk membayar 200 ribu rupiah untuk masing2 resep yang telah ia tulis. Kami berdua sedikit kaget. Karena bagi kami itu sangat mahal untuk dokter umum biasa. Sayapun sering ke dokter spesialis di Tangerang, dan tidak semahal si dokter tua ini. Namun, saya sedikit berpikiran positif, mungkin memang dokter ini dokter yang sangat profesional dan ampuh dalam memberikan resep.

Sebelum kami pulang, dokterpun tidak lupa untuk mengingatkan saya menukar resep itu ke apotik. Dan sedikit bertanya dimana kami tinggal. Kami pun menjawab singkat, " dekat dok, di janti,".

Setelah dari dokter tersebut, kami langsung pulang dan tidak lebih dulu mampir ke apotik. Karena memang masih pagi dan apotik masih jarang yang buka. Sayapun khawatir ade alysha yang saya tinggal masih tertidur keburu bangun dan menangis.

Setelah kembali ke rumah kerabat saya itu, papanya faza berniat langsung ke apotik sembari mengisi bensin mobil yang sudah menipis. Pergilah papanya berdua dengan faza mencari apotik yang sudah buka. Lama juga saya menunggu papanya pulang dari apotik. Sekitar setengah sebelas, dan hampir dua jam papanya baru tiba. Saya langsung menanyakan obat yang baru saja ia beli. Namun saya kaget ketika suami saya mengatakan, "Dari tiga apotik yang saya kunjungi, tidak ada satupun yang mengenal obat yang diresepin dokter itu," kata papanya faza.
"loh kok bisa" saya bertanya balik.

Jadi, menurut pihak apotik, yang di tulis oleh dokter itu bukan nama obat, namun nama penyakit. Dan itupun dikatakan sang apoteker setelah bertanya kepada salah satu dokter yang sedang jaga (karena kebetulan apotiknya jadi satu dengan dokter praktek). Namun ada satu obat jenis puyer yang memang ditulis secara benar oleh dokter ini. Tapi, karena kesangsian saya terhadap sang dokter, saya langsung membuang obat itu.

Begitu pula dengan resep untuk anaknya mbak Y ini. Kebetulan si mbak ini belum sempat membeli obatnya ke apotik. Namun sepupunya seorang apoteker yang kebetulan rumahnya bersebelahan juga mengatakan hal yang serupa terhadap resep itu. Salah satu obat yang diresepkan dokter itu tidak ia mengerti.

Sebenarnya pihak apotik menyuruh saya kembali kepada dokter itu dan mempertanggung jawabkan resep yang aneh tersebut. Namun, karena raga ini merasa sudah lelah, sementara hari sudah sangat siang dan sangat panas, saya dan suami mengikhlaskan saja dan melanjutkan liburan kami memperlihatkan eksetisme candi prambanan kepada buah hati kami, dan melupakan kejadian pagi itu.



Surabaya, 23 february 2010
Hayati M. Hamzah