Selasa, 02 November 2010

Tujuh hari yang lalu...


Tujuh hari yang lalu....

dia meninggalkan kita semua kita...

keluarga.....sahabatnya... kawan sejati.....

Tujuh hari yang lalu....

gumpalan awan panas dari kawah gunung merapi telah merenggut nyawanya....

bersama puluhan orang lain yang setia bersama si penjaga kunci

Semua orang yang mengenalnya merasa begitu sangat kehilangan...

Kehilangan kawan yang begitu baik..

Kehilangan rekan kerja yang begitu menyenangkan

Kehilangan sahabat yang selalu seirama sekata...

Kau rela menantang bahaya demi kemanusiaan...

Kau rela manantang debu dan panas demi sebuah tugas dan tanggung jawab

Dan akhirnya...memang kau adalah teladan bagi semua

Teladan bagi semua yang kau tinggalkan

Bahkan..... kau juga patut menjadi teladan para pemimpin negeri ini

Rasa kemanusiaanmu yang tinggi....keberanianmu....juga tanggung jawabmu

Mengenang kepergian mas Wawan (Yuniawan Wahyu Nugroho)

Surabaya, 2 November 2010

Rabu, 20 Oktober 2010

Faza dengan pertanyaan dan protesnya


Sejak duduk dia bangku Sekolah Dasar (SD) selama tiga bulan lebih ini, anak saya Faza banyak sekali melontarkan pertanyaan dan juga protes. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan kepada saya setiap dia pulang sekolah. Seperti misal,

“Mah, orang Jepang itu Tuhannya siapa?”

“ Kebanyakan orang Jepang itu menyembah matahari ka..” jawab saya sebisanya.

“ loh kok, Tuhannya Matahari sih mah?” tanyanya lagi.

“ya...itu sudah keyakinan mereka..dan kita wajib menghormatinya,” jawab saya lagi.

“Setiap agama itu Tuhannya beda-beda ya mah?” tanya faza lagi.

“iya...karena itu adalah keyakinan..dan, kita wajib menghormati keyakinan agama orang lain,” jawabku lagi.

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini ia lontarkan biasanya ketika di Sekolah ia habis menerima pelajaran yang menerangkan berbagai macam agama yang ada di Nusantara, beserta tempat peribadatan dan hari rayanya.

Kadang setelah pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan sudah dijawab oleh sayapun, ia tetap mengerutkan dahi, seperti berfikir dan mencoba menemukan jawabannya sendiri.

Pernah juga ia melontarkan pertanyaan seperti ini,

“Mah...Jiddah(nenek) itu kan sudah tua, berarti sebentar lagi mati dong?” tanyanya.

“Setiap makhluk hidup itu pasti akan mati ka, ngga Cuma jiddah..mama, papa, kamu juga pasti akan mati, Cuma kita ngga tahu kapan waktunya,” jawabku mencoba memberikan penjelasan.

“trus..kalo aku udah gede nanti, suami aku siapa dong mah’” tanyanya lagi.

“wadduh...ya mama gak tau dong kak....tapi, kehidupan itu sudah di atur sama Allah ka...entah itu rezeki..jodoh..ataupun mati. Mama aja dulu gak tau kalo suami mama itu papa kamu,” jelasku lagi.

Sampai-sampai ketika saya menyuruhnya belajar ketika akan menghadapi mid semesternya kemarin saja ia melontarkan pertanyaan yang juga protes menurut saya.

“Mamah...kenapa aku harus belajar terus sih?,” tanyanya ketika itu. Dan pertanyaan ini tidak ia lontarkan hanya sekali saja. Pada waktu-waktu lain juga ia sering melontarkan pertanyaan semacam ini.

Mendengar pertanyaannya ini saya sampai mengatur nafas dan mencoba berfikir mencari jawaban yang sekiranya tepat buat dia. Karena sayapun khawatir, pertanyaan ini menunjukkan kebosanannya akan belajar.

“Belajar adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT faza... karena Dia yang telah memberikan kita rizki...sehingga faza bisa menjadi anak cantik, dan pintar. Juga rizki dalam bentuk materi, karena dengan rizkinya Faza bisa diberikan kesempatan untuk menuntut ilmu di sekolah. Nah..kalau Faza tidak belajaar...berarti Faza tidak bersyukur sama Allah..” jelasku ketika itu.

Pernah juga ia protes kepada saya, dan bagi saya ini adalah pukulan sangat telak untuk saya pribadi. Ketika itu, ia sedang asyik main dengaan adiknya, Alysha. Melihat mereka asyik bermain, tidak ada salahnya saya akhirnya menyalakan komputer dan membuka account saya di Facebook. Tidak lama berselang, karena mungkin merasa tidak diperhatikan, ia menghampiri saya dan bertanya dengan nada protes,

“Mah..kenapa sih mamah facebookan mulu?? Emangnya itu kerja mah???” protesnya kala itu.

Saya hanya tersenyum dan jadi tidak enak hati. Langsung saja saya matikan komputer dan minta maaf sama dia.

“sori deh ka...abisnya mama di cuekin sama kamu siy....ya udah mama facebookan deh!!” kataku sekenanya.

Beberapa hari terakhir ini keinginannya untuk belajar memang agak sedikit kendur. Entah karena pengaruh hobinya yang doyan nonton TV atau memang jenuh. Dan sebagai orang tua pun saya khawatir ia jenuh.Makanya, sayapun akhirnnya tidak terlalu mem-push dia untuk belajar ini dan itu. Sekedar mengerjakan PR dan mengulang beberapa soal2 pelajaran, bagi saya itu sudah cukup untuk me-review kembali pelajaran-pelajaran di sekolahnya. Namun begitu, alhamdulillah nilai-nilai di sekolahnya memang tidak terlalu mengecewakan.

Kembali ke faza yang suka tanya dan protes, mengingatkan saya kepada masa kecil saya dulu. Saya masih ingat ketika kecil saya berfikir dari mana asalnya uang dan juga makanan-makanan terutama makanan dan minuman kemasan seperti halnya sirup. Waktu kecil saya menyangka makanan dan minuman itu dihasilkan oleh pohon. Dalam arti pohon itu berbuah langsung makanan or minuman botol itu. Karena ketika itu saya pernah melihat sebuah pohon besar menghiasi satu lembar halaman sebuah majalah, dan di ujung-ujung pohon itu ada botol-botol minuman. *Setelah besar dan mengerti saya tahu kalau itu adalah iklan minuman di majalah*.

Entah kenapa, seingat saya, banyak pertanyaan-pertanyaan masa kecil saya, tidak pernah saya tanyakan langsung ke orang tua saya waktu itu. Saya hanya bertanya dalam hati dan mencoba mencari jawabannya sendiri.

Mungkin semua orang, di usia—usia Faza sekarang, memang sedang banyak berfikir dan bertanya. Seperti halnya Nabi Ibrahim kecil yang yang mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di kepalanya tentang Tuhan.

Semolo waru, Surabaya......

Kamis, 14 Oktober 2010

Irama kesedihan


Hujan masih mengguyur diluar sana. Setiap rintik jatuhnya seperti merangkai sebuah irama kesedihan. Seperti kesedihan yang sedang dialami dua orang kawan, yang baru saja ditinggal orang yang sangat disayangi dan dicintainya. Aku bisa merasakan kehilangan dan kesedihan yang mendalam yang sedang mereka alami. Batapa nafas menjadi begitu sesak....betapa kehidupan ini tiba-tiba begitu sunyi....betapa seolah-olah aliran darah di tubuh ini menjadi beku seketika....betapa dunia menjadi begitu kejam...dan betapa hidup terasa tidak adil!!.. karena Tuhan menjemputnya, disaat cinta dan kasih sayang sedang mereka pupuk.

Tapi Tuhan memang punya kuasa. Kita tidak akan tahu rahasia dibalik semua cobaan yang diberikanNya kepada kita. Dan kita...yang masih diperkenankan olehNya, menikmati khasanah rezeki di bumi ini hanya bisa berdo’a.

Dan, saya yakin....kalian kuat dan tabah dalam menghadapi cobaan ini. Amien

to: kawan Acho dan lala purwono

Surabaya, 14 Oktober 2010

Senin, 16 Agustus 2010

Belajar dari Faza

Ada hal yang menarik yang saya pelajari belum lama ini dari anak saya Faza. Di usianya yang sudah enam tahun, memang boleh di bilang terlambat dibandingkan anak--anak yang lain dalam satu hal "belum bisa bersepeda roda dua". Sepeda yang dibelikan papanya lebih dari satu tahun yang lalu memang sangat jarang digunakan. Pernah sekali-dua kali digunakannya untuk pergi TPA di Mushollah belakang komplek perumahan kami.Namun itupun menggunakan roda empat.

Faza memang agak terbilang malas, dan bisa jadi hal itu ditularkan oleh saya juga sebagai ibunya. Sepulang sekolah ia pasti langsung menonton televisi atau maen game di komputer. Sampai saya harus menyuapi makann siangnya sementara ia tetap asyik dengan gamenya. Kadang saya amat mengalami kesulitan untuk menyudahinya. Pada akhirnya, untuk menghentikan hobbinya maen game ataupun nonton film kartun kegemarannya, saya harus bersikap keras. Saya tahu hal ini menyakiti hati dia, tapi saya tidak punya pilihan lain. Kalau lagi sulit dikasih pengertian untuk berhenti main game, saya langsung memutus aliran listrik di dalam rumah. Kemudian membujuknya dengan memabacakan buku cerita sebagai penghantar tidur siangnya.

Bangun tidur siangpun, hal yang dilakukannya pertama kali kalau tidak menyalakan komputer, ia pasti menyalakan TV dan menonton tayangan anak2. Belum lagi tempat tinggal kami yang memang sangat sepi, membuatnyaa enggan untuk keluar rumah mencari teman. Sehingga mainannya seperti sepedanya juga, yang disediakan di rumah tidak terlalu dia perdulikan.

Namun sekitar tiga hari yanglalu dia tiba-tiba bertanya kepada saya, "Mah, kok aku belum bisa naik sepeda roda dua sih?"
Aku tersenyum mendengarnya, "Bagaimana bisa naik sepeda, kalau di coba aja ngga pernah sama faza" jawabku kala itu.
Pernah memang beberapa kali ia mencoba dibantu oleh saya atau papannya, tapi selalu putus asa dan tidak mau melanjutkan usahanya untuk sampai bisa bersepeda roda dua. Dan sayapun tidak bisa memaksa dia tentunya.

Setelah ia mengatakan itu, ternyata tanpa sepengetahuan saya ia mengeluarkan sepeda dari garasi rumah. Dan mencobanya sendiri. Saya yang kebetulan sedang asyik juga di depan komputer, mulanya tidaak menyadari hal itu. Karena saya pikir ia tidur bersama adiknya. Ketika saya tahu ia sedang berusaha sendiri mencoba mengayuh sepedanya dan mengatur keseimbangan tubuhnya, saya sangat senang dan bangga luar bisa. Terlebih lagi, tidak butuh berhari-hari ia mencoba sampai bisa, karena malamnya ia sudah lumayan lancar mengayuh sepedanya dengan menjaga keseimbangan tubuhnya diatas kendaraan roda dua itu.

Sebuah kalimat yang ia ucapkan setelah itu dengan senyum mengembang diwajahnya, "Naek sepeda itu enak yah mah" ujarnya.

Layaknya orang yang sedang kecanduan, esoknya sepulang sekolah ia langsung mengambil sepeda dan mengayuhnya mengitari beberapa blok di komplek perumahan kami. Sebenarnya saya melarangnya, karena siang itu udara lumayan panas, dan belum lagi ia sedang berlatih puasa. Tapi saya tidak bisa melarangnya kecanduan dengan mainan barunya itu. Ia kembali ke dalam rumah hanya untuk minta susu dan makan karena memang masih belum kuat puasa sehari penuh.

Setelah selesai minum susu dan makan, ia keluar lagi dan bermain sepeda lagi sampai akhirnya terjatuh dan luka bungsrut di beberapa bagian tubuhnya. Tangisnya minta ampuunnn..memecah siang itu. namun akhirnya dia diam dan tertidur.

Saya sebenernya agak khawatir, sehabis jatuh itu ia tidak mau lagi bermain sepeda. Tapi ternyata, pas bangun tidur ia tetap semangat untuk mengayuh sepedanya kembali.

Faza...seperti layaknya anak--anak yang lain, akan selalu memberi inspirasi buat kita2 yang sudah dewasa. Bahwa segala sesuatunya, apapun yang kita inginkan, bila itu diiringi dengan kemauan yang keras insya Allah akan tercapai.


Surabaya, 16 Agustus 2010

Jumat, 11 Juni 2010

Lagi-lagi berita yang ikut mencoreng perilaku moral negeri ini mengemuka. Kalau beberapa bulan lalu, perilaku moral dan mental para pejabat yang bobrok (yang suka korup dan makan uang rakyat), sekarang giliran generasi mudanya. kali ini beritanya tentang generasi muda negeri ini, yang kebetulan adalah seorang artis papan atas, yang suka melakukan adegan porno serta mendokumentasikannya. Dalam seminggu terakhir ini, ratusan juta mata rakyat Indonesia seperti terhipnotis tentang berita ini. Berita yang sebenarnya tidak layak untuk dibesar-besarkan apalagi diulang-ulang. Karena yang mendengar, membaca dan melihat berita ini tidak hanya orang dewasa, namun ggenerasi kita yang masih di bawah umur. Belum lagi berita dan juga adegan filmnya tersebar luas di internet dan tentu saja menjadi berita yang paling hit di jejaring sosial. Dengan kemajuan teknologi dan akses internet yang sangat mudah sekarang ini, belum lagi pengguna internet sekarang yang juga sebagian besar adalah anak baru gede, maka dengan mudah video ini diakses oleh semua kalangan.

Sebenarnya bukan kali ini saja, kasus2 yang mengarah ke pornografi terjadi di negeri ini. Tidak hanya dari kalangan artis yang memang notabene kehidupannya tidak jauh dari hedonisme, mahasiswa, bahkan juga wakil rakyat kita yang duduk di senayan sana, pernah tersandung kasus ini. Masih segar ingatan kita, beberapa tahun lalu, berita heboh tentang dua mahasiswa Itenas dan Unpad Bandung, yang video mesumnya beredar di kalangan masyarakat luas. Meskipun penggunaan internet saat itu tidak semudah sekarang, juga pemakai jaringan internet juga masih sangat minim dan hanya kalangan tertentu, namun tidak sedikit generasi kita yang ikut mengkonsumsi video ini.

Mahasiswa saat itu tercoreng. "Apakah selain belajar, para generasi kita yang notabene mahasiswa ini sibuk disa engan urusan esek-esek?". Dan "Apakah bisa kita mengharapkan generasi-generasi kita bisa menggantikan posisi para pemimpin-pemimpin kita saat ini ke depan, bila saat ini disibukkan oleh percintaan dan juga esek-esek?".

Tidak hanya itu, ternyata ada juga wakil rakyat kita yang suka beradegan mesum dengan pasangan bukan resminya dan mendokumentasikannya juga. Lagi-lagi perilaku bejad para politisi kita menghiasi halaman republik ini. Ternyata, beberapa diantara mereka tidak hanya senang merampas uang rakyat, tapi juga penganut perilaku seks bebas. Sehingga menjadi sebuah pertanyaan besar di kepala kita. "Bagaimana mereka bisa mengurusi kepentingan rakyat dan hajat hidup orang banyak, bila mereka juga disibukkan dengan aktifitas percintaan dan esek-esek?".

Pergaulan bebas di kalangan pelajar, dan juga mahasiswa sudah bukan rahasia umum lagi. Banyak memang generasi kita yang mengukir prestasi di negeri ini, namun tidak kalah banyaknya generasi kita yang mengisi hari-harinya untuk hal-hal yang tidak berguna. Dan, tayangan-tayangan televisi yang tidak mendidik menurut saya juga memberi peran penting bagi rusaknya moral bangsa ini. Yang pada akhirnya, generasi kita adalah generasi yang apatis dan juga hedonis. Mereka lebih menyukai mall-mall, kafe, ketimbang perpustakaan. Mereka lebih senang melihat sinetron televisi, selain juga meniru perilaku para aktor dan aktris di dalamnya, ketimbang membaca buku. Mereka sibuk membicarakan mode pakaian, baju, rambut yang sedang ngetrend, ketimbang membicarakan pelajaran. Mereka sibuk mengeksplorasi perasaan mereka terhadap lawan jenis, ketimbang mengeksplorasi pengetahuan yang mereka miliki.

Tidak sedikit di friendlist account jejering sosial yang saya miliki, adalah ABG-ABG yang juga seorang pelajar. Karena sebagian besar memang adalah kerabat dekat. Dan tidak sedikit dari status-status yang mereka tulis di sana adalah tentang pergaulan mereka, yang tidak jauh dari pacar dan hedonisme (senang-senang). Dan tidak sedikit dari generasi pelajar kita saat ini yang memanfaatkan jejaring sosial anya untuk mencari teman kencan. Kecanggihan teknologi saat ini, dan juga kemudahan mengakses internet, tidak digunakan mereka untuk hal-hal yang positif.

Perilaku-perilaku generasi muda saat ini, menjadi PR yang penting, tidak hanya buat para orang tua, namun juga pemimpin negeri ini. Dan sedari dini, orang tua harus mengarahkan anak-anaknya ke arah yang positif. Juga ada baiknya, sedari dini para orang tua mengarahkan anak2nya ke arah logika berfikir, bukan perasaan. Karena, bila logika bermain, maka mereka akan cenderung melakukan hal-hal yang positif. Namun, bila mereka mengutamakan perasaan, maka mereka akan selalu bersenang-senang dan menghabiskan waktu untuk sebuah perasaan yang tidak jelas.

Pada akhirnya negeri ini akan mengalami apa yang dinamakan "lost generation". Karena tidak sedikit dari generasi muda kita uga adalah pencandu narkoba. Kalau boleh saya menyebut negeri ini dengan sebutan negeri "complete of crisis". Karena negeri ini tidak hanya krisis moral, juga masih banyak krisis yg dialaminya, yakni krisis kepercayaan kepada pemimpin juga wakilnya, krisis listrik, krisis pangan, dll..................

Surabaya, 12 Juni 2010

Selasa, 11 Mei 2010

Lastri

Namanya Lastri. Lengkapnya Tri Lastri. Waktu pertama kali melihatnya saya memang sangat kaget. Usianya baru menginjak 14 tahun kala itu, namun badannya memang kecil seperti usia 10 tahunan. Agak berat hati sebenarnya menerima dia untuk menjadi asisten di rumah saya (PRT = Pembantu Rumah Tangga). Karena pada saat itu saya baru saja melahirkan anak kedua saya, sehingga untuk menjadi pembantu pastinya banyak pekerjaan yang berat. Namun, mau tidak mau karena saya sudah terlanjur menyebar informasi bahwa saya membutuhkan seorang pembantu rumah tangga. Waktu itu seorang Bapak yang mengaku sebagai uwaknya mengantarkannya ke rumah orang tua saya. Menurut uwaknya, Lastri yang berasal dari sebuah desa di daerah jawa tengan ini (saya lupa daerahnya) merengek kepadanya untuk ikut serta ke kota mencari pekerjaan. Hanya sebuah tas usang berwarna hitam yang isinnya beberapa helai baju yang dibawanya kala itu. Miris memang. Diusianyaa remajanya, dimana anak2 yang lain sedang menghabiskan masa remajanya dengan tawa bersama teman2, ia justru mencari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Belum lagi, banyak keponakan saya yang seusia dia. Sehingga bila melihat ia, saya membayangkan keponakan-keponakan yang masih terbilang manja. Jangankan pusing memikirkan uang jajan, sekedar membereskan tempat tidur dan kamarnya sendiripun para keponakan saya ini harus melalui bantuan sang pembantu rumah tangga. Menurutnya, ia ingin membantu orang tuanya mencari uang untuk membbiayai adik-adiknya bersekolah. Orangtuanya hanya seorang petani penggarap lahan milik orang lain. Dan menurut lastri, ibunya yang juga membantu bapaknya bertani di ladang pernah bekerja di Jakarta sebelumnya. Sebagai seorang pembantu juga. Ketika uwaknya menyerahkan Lastri kepada saya, tidak lupa saya menyerahkan beberapa uang ratusan ribu rupiah kepadanya sebagai belas kasih.

Jadilah Lastri ini pembantu rumah tangga di rumah saya. Saya tidak terlalu membebankan pekerjaan yang terlalu berat kepadanya. Karena untuk urusan mencuci dan menyetrika, saya juga punya asisten yang lain lagi, namun tidak menetap di rumah saya. Lastri hanya sekedar menyapu, mengepel dan menemani anak saya yang pertama bermain. Ia juga kadang membantu menyuapi anak saya makan, karena saya memang sangat repot dengan si kecil. Orang tua saya juga sangat prihatin dengan Lastri. Kadang-kadang bila ibu saya mengirimkan makanan untuk anak saya, tidak lupa ada makanan juga untuk lastri ini.

Sekitar dua minggu berjalan, tiba-tiba uwaknya yang perempuan dan laki-laki datang menjenguk lastri di rumah. Saya menerimanya dengan baik. Ketika ngobrol panjang sana-sini, uwaknya yang perempuan ternyata berniat ingin juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Kebeneran, kakak ipar yang rumahnya persis di samping rumah saya memang sedang membutuhkan seorang pembantu rumah tangga. Akhirnya jadilah uwaknya pembantu rumah tangga di rumah kakak ipar saya di sebelah. Sebenarnya, dengan berat hati juga. Karena kakak ipar saya merasa berdosa mempekerjakan seseorang yang masih mempunyai tanggung jawab terhadap anak dan suaminya di rumah bedeng miliknya yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari rumah saya. Namun, karena ia merengek butuh uang dan ingin bekerja kakak ipar saya akhirnya menerimanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang hanya bergaji sekian ratus ribu rupiah per bulan.

Tiap hari lastri selalu melakukan pekerjaan sebaik mungkin. Namun tetap saja, saya setengah hati mempekerjakannya. Karena saya merasa melakukan hal yang sangat buruk. Mengekploitasi anak di bawah umur. Pernah suatu hari saya menawarkan kepadanya untuk melanjutkan sekolahnya kembali. Namun ia tidak mau. Ia hanya ingin bekerja saja dan mencari uang.

Hampir satu bulan lastri bekerja di rumah saaya, dan saya merasa ia tetap anak2 yang baik. Sampai suatu ketika saya menemukan sebuah gunting bayi di dalam dompetnya yang disimpan rapi di tas hitam miliknya. Ketika itu, suami saya mengajaknya meenemani anak saya Faza renang. Saya sebenarnya hanya sekedar iseng ingin tahu apa saja sih yang dibawa anak ini. Ketika melihat ggunting bayi di dompetnya itu, saya memang sedikit kecewa. Karena sebelumnya, saya berkali-kali bertanya kepadanya apakah melihat gunting bayi yang berwarna kuning itu. Karena saat itu memang bayi saya kuku-kukunya sudah waktunya untuk digunting. Setiap ditanya oleh saya, ia pasti menggeleng dan bilang tidak tahu. Memang, barang itu sepele dan tidak berharga. Namun, satu kepercayaan saya waktu itu sedikit luntur karenanya.

Tapi, karena memang ia masih anak-anak menurut saya, maka saya mengabaikan kemudian. Saya hanya berfikir, ia datang dari sebuah kampung dan bergelut dengan kemiskinan setiap harinya. Hanya untuk melihat barang2 yang unik dan menarik seperti gunting bayi ini adalah hal yang jarang ditemuinya sebelumnya. “Yah...namanya juga anak-anak” kata suami saya ketika saya mengukan hal ini. Dan saya yakin, seperti anak-anak kebanyakan, kita masih bisa mengajarkan kebaikan-kebaikan kepadanya.

Hampir genap satu bulan ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah saya. Pada suatu hari tepatnya hari minggu, uwaknya yang bekerja di rumah kakak ipar saya di sebelah mengajaknya mengunjungi suami dan anak2nya dan berniat menginap semalam. Terlihat wajah senang dan gembira terlihat di wajahnya. Saya tidak berat hati mengijinkannya. Lagi pula karena hari itu hari minggu, saya memang bisa mengunjungi orang tua saya yang letaknya tidak jauh dari rumah. Karena sesuatu hal, saya juga akhirnya menginap di rumah orang tua saya. Rumah saya saya biarkan kosong. Esok harinya, sore hari saya kembali ke rumah, ketika tiba-tiba kakak ipar saya yang lain mengabarkan bahwa lastri beberapa jam lalu datang dan pamit untuk pulang kampung. Menurut kakak ipar saya ini, lastri menangis karena harus pulang ke kampungnya melihat ibunya yang katanya tiba-tiba sakit karena memikirkan dia.

Saya akui, bahwa saya kehilangan. Andai ia bisa tinggal lama di rumah saya, mungkin banyak yang bisa saya lakukan untuk anak itu. Paling tidak, ada niat saya yang tulus untuk memutus mata rantai dari dirinya di kemudian hari, agar tidak melahirkan calon-calon pembantu kembali.

Surabaya, 11 Mei 2010

Sabtu, 10 April 2010

faza safina hamzah

Tanpa terasa enam tahun sudah aku melewati masa ini. Masa yang sangat menakjubkan sebagai seorang ibu.

Tepat enam tahun yang lalu, seorang bayi perempuan dengan berat 4 kg dan panjang 51 cm lahir ke dunia. Enam tahun yang lalu, ketika pagi-pagi buta, aku dan suami bergegas ke RS dimana aku biasa memeriksakan kehamilanku selama ini. Karena sejak jam dua dini hari, air ketuban yang merupakan makanan si jabang bayi sudah keluar banyak. Beberapa orang bidan, atas saran dokterku, langsung memberikan suntikan induksi yang gunanya merangsang si jabang bayi agar bergerak keluar. Sebelumnya, aku juga sudah diberitahu bahwa ada kemungkinan dilakukannya operasi Caesar bila tidak ada kemajuan.

Namun Alhamdulillah, tujuh jam kemudian sang bayi lahir dengan normal. Sulit dibayangkan, dengan badanku yang kecil ini bisa mengeluarkan bayi yang besar dan sangat montok dan sehat. Meskipun memang, aku hampir kehabisan tenaga untuk bisa mengeluarkannya. Sampai-sampai setelah selesai persalinan, seluruh badanku terlihat sangat kuning, namun tidak sampai mendapat transfusi darah. Lafadz adzan segera di kumandangkan oleh suamiku di telinga sang bayi yang kami beri nama “Faza Safina Hamzah”.

Kami beri nama Faza, agar dalam mengarungi kehidupannya nanti ia menjadi orang yang sangat beruntung dalam bermacam hal. Beruntung bisa merasakan nafas dunia yang fana ini. Beruntung bisa membantu orang banyak di masanya kelak. Beruntung bisa melakukan banyak hal dalam peradaban dunia di kehidupan nantinya.

Saat ini aku hanya berdoa, semoga masih diberikan nafas untuk mengiringi waktu-waktu kehidupannya sampai ia dewasa nanti.

Selamat ulang tahun sayang….doa kami selalu menyertai perjalanan hidupmu..


Surabaya, 10 April 2010