Saat inilagi ramai-ramainya yang namanya markus alias makelar kasus. Tidak kalah menarik yang menjadi bintang sinetron "Markus" Gayus tambunan, juga bak aktris yang tiba-tiba melejit ke permukaan. Menjadi perbincangan di semua kalangan masyarakat, tak terkecuali di jejaring sosial facebook. Ada saja postingan-postingan yang nyeleneh berkaitan dengan nama sang bintang "Gayus". Seperti "Gayus lu, ah.." atau "Gayus banget sih loe..".
Kata makelar kasus (Markus) mungkin baru-baru beberapa tahun terakhir ini saja mencuat ke permukaan dan akrab di telinga kita. Tapi, yang namanya "kerja di tempat basah" di sebuah instansi pemerintah, dari sejak kecil saya sudah mendengarnya.
Sering pada saat saya kecil dahulu, ketika menguping pembicaraan orang tua - orang tua yang sedang bergosip membicarakan si "anu" yang hartanya melimpah, mereka mengatakan "yah...wajar sajalah...dia kan kerja enak..di tempat basah". Sebagai anak kecil yang masih polos, saat itu saya tidak mengerti apa itu yang namanya "kerja di tempat basah".
Yang pasti menurut pembicaraan mereka waktu itu, kerja di tempat basah adalah kerja yang menghasilkan uang banyak. Saya sempat berfikir "kok bisa yah...basah-basahan, tapi dapet duit banyak...??".
Pastinya di masyarakat kebanyakan, sampai saat inipun masih menganggap orang yang "kerja di tempat basah" yang nota bene adalah bagian dari Markus (makelar kasus) adalah orang berhasil dan sukses.
Keriteria sukses pada masyrakat awam saat ini memang masih melihat sejauh mana materi yang bisa ia kumpulkan. Bila dari kerjaannya ia bisa membeli mobil lebih dari satu dengan merk bangus, serta bisa punya rumah mewah dengan perlengkapan yang serba modern, mau itu di dapat dari hasil catut mencatut atau tak lain adalah hasil korupsi, masyarakat pada umumnya menganggap mereka, orang-orang seperti ini adalah orang sukses.
Terhadap orang sukses ini, biasanya masyarakat lebih hormat, segan, karena secara materi lebih dari yang lainnya.
Saya berharap, masyarakat ke depannya lebih cerdas setelah kasus ini, dan menganggap orang-orang seperti Gayus ini tak lebih baik dari pencopet, pejambret yang sering berkeliaran di terminal-terminal, bus kota dan kereta api.
Hayati M. Hamzah
Kata makelar kasus (Markus) mungkin baru-baru beberapa tahun terakhir ini saja mencuat ke permukaan dan akrab di telinga kita. Tapi, yang namanya "kerja di tempat basah" di sebuah instansi pemerintah, dari sejak kecil saya sudah mendengarnya.
Sering pada saat saya kecil dahulu, ketika menguping pembicaraan orang tua - orang tua yang sedang bergosip membicarakan si "anu" yang hartanya melimpah, mereka mengatakan "yah...wajar sajalah...dia kan kerja enak..di tempat basah". Sebagai anak kecil yang masih polos, saat itu saya tidak mengerti apa itu yang namanya "kerja di tempat basah".
Yang pasti menurut pembicaraan mereka waktu itu, kerja di tempat basah adalah kerja yang menghasilkan uang banyak. Saya sempat berfikir "kok bisa yah...basah-basahan, tapi dapet duit banyak...??".
Pastinya di masyarakat kebanyakan, sampai saat inipun masih menganggap orang yang "kerja di tempat basah" yang nota bene adalah bagian dari Markus (makelar kasus) adalah orang berhasil dan sukses.
Keriteria sukses pada masyrakat awam saat ini memang masih melihat sejauh mana materi yang bisa ia kumpulkan. Bila dari kerjaannya ia bisa membeli mobil lebih dari satu dengan merk bangus, serta bisa punya rumah mewah dengan perlengkapan yang serba modern, mau itu di dapat dari hasil catut mencatut atau tak lain adalah hasil korupsi, masyarakat pada umumnya menganggap mereka, orang-orang seperti ini adalah orang sukses.
Terhadap orang sukses ini, biasanya masyarakat lebih hormat, segan, karena secara materi lebih dari yang lainnya.
Saya berharap, masyarakat ke depannya lebih cerdas setelah kasus ini, dan menganggap orang-orang seperti Gayus ini tak lebih baik dari pencopet, pejambret yang sering berkeliaran di terminal-terminal, bus kota dan kereta api.
Hayati M. Hamzah









