Selasa, 30 Maret 2010

Orang sukses = Markus

Saat inilagi ramai-ramainya yang namanya markus alias makelar kasus. Tidak kalah menarik yang menjadi bintang sinetron "Markus" Gayus tambunan, juga bak aktris yang tiba-tiba melejit ke permukaan. Menjadi perbincangan di semua kalangan masyarakat, tak terkecuali di jejaring sosial facebook. Ada saja postingan-postingan yang nyeleneh berkaitan dengan nama sang bintang "Gayus". Seperti "Gayus lu, ah.." atau "Gayus banget sih loe..".

Kata makelar kasus (Markus) mungkin baru-baru beberapa tahun terakhir ini saja mencuat ke permukaan dan akrab di telinga kita. Tapi, yang namanya "kerja di tempat basah" di sebuah instansi pemerintah, dari sejak kecil saya sudah mendengarnya.

Sering pada saat saya kecil dahulu, ketika menguping pembicaraan orang tua - orang tua yang sedang bergosip membicarakan si "anu" yang hartanya melimpah, mereka mengatakan "yah...wajar sajalah...dia kan kerja enak..di tempat basah". Sebagai anak kecil yang masih polos, saat itu saya tidak mengerti apa itu yang namanya "kerja di tempat basah".

Yang pasti menurut pembicaraan mereka waktu itu, kerja di tempat basah adalah kerja yang menghasilkan uang banyak. Saya sempat berfikir "kok bisa yah...basah-basahan, tapi dapet duit banyak...??".


Pastinya di masyarakat kebanyakan, sampai saat inipun masih menganggap orang yang "kerja di tempat basah" yang nota bene adalah bagian dari Markus (makelar kasus) adalah orang berhasil dan sukses.

Keriteria sukses pada masyrakat awam saat ini memang masih melihat sejauh mana materi yang bisa ia kumpulkan. Bila dari kerjaannya ia bisa membeli mobil lebih dari satu dengan merk bangus, serta bisa punya rumah mewah dengan perlengkapan yang serba modern, mau itu di dapat dari hasil catut mencatut atau tak lain adalah hasil korupsi, masyarakat pada umumnya menganggap mereka, orang-orang seperti ini adalah orang sukses.

Terhadap orang sukses ini, biasanya masyarakat lebih hormat, segan, karena secara materi lebih dari yang lainnya.


Saya berharap, masyarakat ke depannya lebih cerdas setelah kasus ini, dan menganggap orang-orang seperti Gayus ini tak lebih baik dari pencopet, pejambret yang sering berkeliaran di terminal-terminal, bus kota dan kereta api.


Hayati M. Hamzah

sedikit curhat

Malem ini niatnya mau menulis beberapa hal sedang dipikirkan sepanjang hari ini di kepala. Tapi herannya, setiap kali buka yang namanya facebook, kelupaan deh ama niat awal nulis. Emang ngga ada bosennya faceebook-an, meskipun kadang bosen juga liat status kawan2 yang aneh-aneh. Kecuali status temen2 yang ngeyel dan bikin gua ketawa cekikikan.

Pernah suatu kali, ada temen yang posting di wallnya tentang sesuatu atau lebih pasnya sebuah curhat. Awalnya gua berfikir, kalo dia sedang ada masalah dengan pasangannya. Biasanya gua jarang kasih koment ke temen2 yang posting statusnya masalah pribadi, cuma karena iseng gua kasih aja koment yang sedikit nyeleneh.

Tapi anehnya, pas dia bales kok justru langsung menyebut nama orang deket gua. Dan dari balesan-balesan komentar dari temen2nya yang lain, secara jelas postingannya ditujukan langsung ke orang terdekat gua dan menyebut namanya secara jelas.

Sempet ngerasa aneh aja sih, kok bisa nge-pas gini yah..?? padahal sebelumnya tidak ada niat buat komentar apapun karena menurut gua itu adalah masalah pribadinya. Dan bagi gua, masalah pribadi sebenarnya kurang baik bila harus di posting, karena semua orang akan tahu kalau kita sedang bermasalah atau mempunyai masalah. Tapi, pas saat gua mengomentari postingannya dengan sangat tidak serius atau mungkin sedikit nyeleneh, ternyata postingannya di tujukan kepada orang deket gua. Dari balasan komentarnya sih, di bumbui dengan hal berbau canda, tapi kok..."ngga lucu" yah..???

Sebenarnya sih sah-sah saja, namun bagaimanapun situs tersebut adalah jejaring sosial. Tidak perlu saya memberitahukan secara langsung kepada orang terdekat saya tentang apa yang dibicarakan di wallnya, ribuan orang yang tergabung dalam situs ini mungkin akan tahu. Karena setiap postingan yang kita lakukan, akan selalu tampil pada saat frind list kita membuka accountnya. Karenanya, kalau kita langsung menyebut nama seseorang langsung, apalagi tentang keburukan, adalah hal yang sangat tidak etis.

Kalau saya memandang situs ini adalah sarana untukuk share berbagai macam pengetahuan, dan juga tali silaturrahmi. Makanya, kadang saya tidak terlalu serius bila membuat sebuah postingan. Meskipun memang ada beberapa yang serius, seperti kejadian2 aneeh dan lucu yang saya jumpai, juga kalau mendengar kasus-kasus yang memuakkan di negeri ini.

Dalam jejaring ini memang dengan mudah kita bertemu dengan kawan-kawan lama yang mungkin sudah belasan ataupun puluhan tahun tidak bertemu. Dan pastinya, orang - orang yang dulu hilang seperti tertelan bumi, ketika ditemukan kembali disini telah menjadi orang yang lain pula. Tapi memang ada hal-hal yang tidak berubah dari kawan-kawan kita itu. Seperti gilanya, banyolnya, nyelenehnya, mungkin masih ada kesamaan dengan adanya dia dahulu.

Tapi tetap saja, kita tidak serta merta memposisikan dirinya seperti seseorang yang kita kenal di masa lalu. Ini yang harus kita camkan.


Hayati M. Hamzah

Senin, 29 Maret 2010

fana

Tadi malam saya dengan iseng membuka-buka profile kawan yang saat ini sedang berduka, karena beberapa hari yang lalu baru ditinggalkan oleh istri tercintanya. Tidak hanya istrinya yang meninggalkan dirinya, karena enam bulan yang lalu anak tercintanya juga telah meninggalkannya lebih dulu.

Dari foto-foto yang ada di album facebooknya yang di post beberapa bulan lalu, tergambar kemesraan mereka berdua. Ada juga foto-foto kebersamaan mereka dengan buah hatinya yang saat itu masih kira-kira umur 4 bulan.

Ketika anaknya di rumah sakit dan di rawat di ICU RS. Harapan kita, terlihat kesedihan yang mendalam istrinya dari komen2 foto-foto yang terpampang.

Betapa hidup ini memang hanya sebuah titipan semata, yang kita tidak akan pernah tau kapan titipan itu akan diambil oleh yang berhak. Beberapa bulan lalu mereka masih menikmati kebersamaan kesempurnaan hidup yang luar biasa lengkap, ada pasangan dan juga anak. Tapi dalam waktu singkat, enam bulan kemudian, kebersamaan itu sudah tidak ada lagi. Dua titipan yang sangat berharga dalam hidupnya sudah diambil kembali kepada yang punya.

Secara spontan, saya langsung memandangi anak-anak saya yang sedang tertidur pulas saat itu. "Bagaimana kalau ini tertimpa pada saya?? dan mereka berdua..buah hati saya juga di ambil olehNya"??

Saat itu saya hanya berdoa, "Ya Allah, berilah mereka kesempatan merasakan indahnya kehidupan ini dengan ombak dan karang yang ada di dalamnya. Dan semoga mereka bagian dari orang-orang bisa menjalankan ajaran dan petunjukMu. Dan berilah kesempatan saya membimbing mereka sampai mereka siap menantang kerasnya kehidupan ini". Amien....

Hayati M. Hamzah

Minggu, 28 Maret 2010

Production House (PH) Kasus

Dalam perjalanan tadi pagi ke PDAM kota Surabaya, radio mobil kami nyalakan dan kami mendengar siaran langsung di sebuah radio swasta yang sedang wawancara langsung dengan pak Susno Duadji (mantan kabaraeskrim) mabes POLRI yang saat ini sedang naik daun lantaran membeberkan adanya makelar kasus di tubuh kepolisian kita. Menurut pak Susno, Gayus Tambunan, oknum pajak yang saat ini sedang buron dan dan Andi kosasih teman bisnisnya bukan makelar kasus. Yang menjadi makelar kasus adalah orang-orang yang menjadi sutradara dari kasus ini. Sutradara dalam hal ini adalah orang-orang yang melakukan penyidikan dalam kasus gayus, sementara gayus dan andi kosasih sendiri adalah aktor dari sebuah sinetron atau sandiwara kasus tersebut.

Saya yakin pada saat kasus ini dibongkar oleh pak Susno, masyarakat kita tidak merasa kaget ataupun aneh. Yang merasa kaget adalah pihak yang laksana kebakaran jenggot pada saat menerima berita tersebut. Karena bagaimanapun kasus-kasus seperti ini sudah sangat dekat dengan masyarakat secara umum, cuma saja tidak diungkap ke permukaan dan pada umumnya masyarakat sudah menganggap kejadian seperti ini adalah hal yang wajar dan biasa.

Contohnya dalam struktur pemerintahan paling rendah di negara ini yakni kelurahan. Tidak sedikit kasus-kasus penggelapan dana yang dilakukan oleh pejabat-pejabat kelurahan. Mungkin tidak hanya penggelapan, perampokan dana secara terang - terangan juga kerap dilakukan oleh pejabat kelurahan. Contohnya saja di kelurahan tempat saya tinggal. Pada saat warga miskin mendapatkan jatah Bantuan Langsung Tunai (BLT). Dana yang harusnya di terima oleh yang berhak, langsung di potong secara terang-terangan sebanyak puluhan ribu rupiah. Belum lagi pembagian gas elpiji untuk warga. Di daerah saya, yang menerima pembagian secara gratis gas elpiji dari pemerintah bisa di hitung dengan jari.

Ini hanyalah sebuah contoh drama atau sinetron kecil yang di buat oleh sutradara tidak terkenal dan dari sebuah PH kecil yang tidak ternama pula. Namun dampaknya sangat merugikan masyrakat langsung. Masyarakat kecil yang harusnya menerima dana BLT secara utuh dan mendapatkan perangkat gas elpiji secara cuma-cuma, harus berjuang lagi mencari uang sekedar membeli perangkat gas elpiji karena haknya telah di selewengkan oleh pejabat yang berwenang.

Bagaimana dengan sinetron-sinetron lain yang di buat oleh seorang sutradara - sutradara kawakan dari rumah produksi - rumah produksi yang besar..??



Hayati M. Hamzah

Jumat, 26 Maret 2010

Pesona pantai Balekambang



Suara debur ombak yang memecah tepian pantai serta hamparan bintang-bintang dari gugusan galaksi bima sakti yang terpampang indah dilangit, menghapus lelah perjalanan kami menuju pantai Balekambang, Malang selatan yang letaknya kurang lebih 65 Km ke arah selatan dari kota Malang.

Cukup melelahkan memang, karena kami baru tiba sekitar pukul sembilan malam. Karena rencananya ke balekambang ini mendadak, jam satu siang kami baru berangkat dari kota surabaya. Cuaca hari ini memang sangat cerah, namun tetap saja jalur porong macet karena kendaraan yang akan menuju berbagai kota di Jawa Timur menumpuk di jalur ini, belum lagi hari itu adalah long weekend.

Tiba di kota malang sekitar jam setengah lima sore. Setelah menikmati bakso malang cak man di Jl. A. Yani Malang, kami mampir ke pom bensin untuk mengisi bahan bakar dan juga sholat.


Setelah itu kami langsung melanjutkan perjalanan kami menuju ke arah kepanjen, malang. Dari kepanjen, kami menuju ke arah gondanglegi
kemudian ke arah kecamatan Bantur. Dari sini perjalanan dilanjutkan hingga desa srigonco. Semakin lama perjalanan semakin menantang. Bagaimana tidak? Jalanan yang sangat gelap karena tidak ada penerangan jalan sedikitpun, serta jalan yang juga sangat sempit, apalagi kalau berpapasan dengan kendaraan lain. Selain itu kami juga melewati perkebunan - perkebunan tebu yang sangat luas serta hutan jati dengan pohon - pohon besar di kiri kanan jalan. Belum lagi tanjakan yang lumayan terjal dan panjang.

Saat itu saya sempet down juga, karena selama perjalanan melewati perkebunan tebu, perbukitan yang terjal dan hutan jati dengan pohon-pohon besar dikiri kanan jalan, tidak satupun kendaraan yang kami temui. Belum lagi kami hanya berempat saja, yakni saya, suami dan anak2 yg masih kecil2 dan tertidur lelap di jok belakang mobil.

Lega rasanya ketika akhirnya tiba di pos penjagan pantai. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp. 5000,- dan Rp. 2000,- untuk setiap kepala serta Rp. 2000 untuk karcis kendaraan, kami langsung memasuki pantai balekambang. Ketika tiba, suasana sangat gelap dan sepi, juga hanya dua mobil dan sepeda motor yang terparkir di pinggir pantai. Selesai menyantap makan malam di warung makan yg ada disitu, kami lalu menuju arah pantai lebih kedalam. Ternyata suasana di sini lebih ramai. Beberapa kendaraan mobil dan motor terparkir di pinggir-pinggir pantai. Diantara dari mereka juga memasang tenda dan dan menyalakan api unggun sambil menyanyi-nyanyi di iringi sebuah gitar. Dan semakin malam, suasana pantai semakin ramai saja. Anak kami faza dan Alysha yang terbangun sejak tiba di pantai balekambang, berteriak kegirangan melihat hamparan bintang-bintang yang terang di langit. Karena kami tidak membawa tenda, maka kami memutuskan untuk tidur saja di mobil.

Pagi-pagi sekali kami sudah bangun dengan sajian hamparan pasir putih, deburan omba
k, serta birunya air laut yang sangat sepadan dengan langit putih yang cerah. masih terlihat samar pagi itu.

Faza dan Alysha yang juga akhirnya terbangun, langsung tak sabar untuk berenang di tepian. Sebelum menemani anak-anak berenang di pantai, terlebih dahulu kami menyambangi sebuah pura megah yang ada di atas sebuah pulau kecil yakni pulau ismoyo. Puranya sendiri bernama pura ismoyo dan diresmikan pada tahun 1985. Memang, ada tiga buah pulau kecil yang terdapat disana, yakni pulau ismoyo, wisanggeni dan Anoman. Kita hanya melalui sebuah jembatan dengan lebar sekitar 1,5 meter untuk menuju pura di pulau ismoyo. Bila air laut sedang pasang, maka pulau ini seolah mengapung ditengah lautan, inilah mengapa disebut balekambang. Bale (balai), kambang (mengambang).


Di pura inilah berbagai upacara adat sakral jalanidhi puja di gelar setiap tahunnya. Masyarakat setempat juga kerap menggelar upacara adat tahunan seperti suroan yang banyak mengundang wisatawan dalam maupun luar negeri.

Setelah puas melihat-lihat pura di pulau yang sangat kecil itu, juga pesona birunya laut yang terhampar luas dan tepian pantai yang memanjang dan sedikit melengkung di ujungnya, kami lalu mengajak anak kami berenang pantai. Kami memilih pantai disisi kanan yang masuk dalam wilayah hutan konversi Balekambang, karena pantainya lebih sepi. Namun terlebih dahulu kami harus melalui sebuah muara yang airnya terasa dingin. Karena bila memintas melalui bawah jembatan ombaknya terlalu tinggi. Biasanya akan dikenakan tiket sebesar Rp. 2000 lagi untuk memasuki wilayah ini. Namun karena masih sangat pagi, para penjaga loketnya belum datang.

Seolah tidak ada puasnya kami menikmati birunya laut serta hamparan pasir putih pantai balekambang. Karena sesekali tidak jauh dari tepian pantai terlihat segerombolan ikan-ikan yang juga sedang menikmati hangat mentari pagi saat itu. Tidak sampai menunggu matahari meninggi, kami memutuskan untuk kembali, karena perut sudah sangat terasa lapar.


Semakin siang, pantai semakin ramai dengan pengunjung, juga penjaja makanan dan cinderamata. Namun sayang, keelokan pantai ini tidak didukung dengan sarana MCK yang kurang memadai.

Hayati M. Hamzah

Rabu, 17 Maret 2010

Sebuah Romatisme

Belum lama ini, seorang kawan meminta aku mambantunya menulis beberapa naskah yang sedang dikerjakannya. Naskah dokumenter untuk sebuah televisi lokal. Sebenarnya sih..aku sendiri yang menawarkan bantuan secara sukarela kepadanya. Selain buat membantu kawanku ini yang sedang dikejar deadline, juga buat sekalian merefresh otak yang sudah sekian lama tidak menulis dalam bentuk berita ataupun naskah.

Awalnya rada bingung juga ketika kawanku ini hanya memberiku beberapa gambar serta sedikit bahan-bahan untuk naskah yang akan aku kerjakan nanti, karena selebihnya aku harus menggoogling sejumlah bahan untuk kelengkapannya. Lantaran memang sudah tidak terbiasa lagi, agak sedikit ragu dengan naskah yang aku hasilkan pada akhirnya. Tapi ternyata, dari naskah yang aku buat, kawanku lebih tepatnya teman baikku sejak lama ini hanya sedikit saja yang di edit olehnya. Kesalahanku hanya pada terlalu luas memberikan sebuah uraian. Dan, ini adalah hal yang sangat menyenangkan bagiku. Selain mendapat pengetahuan baru tentang naskah yang aku tulis saat itu, ternyata jari-jari ini masih punya kemampuan menulis meskipun tidak sebagus yang diharapkan.


Sudah hampir sepuluh tahun aku sudah tidak melakukan hal yang berhubungan dengan dunia tulis menulis, sejak aku memutuskan untuk keluar dari Voice of Human Right (VHR) sebuah radio di bawah naungan YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) tempatku bernaung sebagai jurnalis untuk terakhir kalinya. Dunia yang telah memberi warna lain dalam kehidupanku, dan yang telah memberi pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga buatku pribadi. Karena dari beberapa profesi yang pernah aku jalani, seperti pegawai kantoran dengan fasilitas yang enak, tetap dunia jurnalistik tidak tergantikan di hati. Menyaksikan pergolakan politik secara langsung pada pemilihan umum multi partai untuk pertama kalinya setelah runtuhnya rezim orde baru, yang pada akhirnya membawa Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjadi Presiden RI adalah pengalaman yang tidak pernah terlupakan.Setelah keluar dari dunia sangat menyenangkan, karena memang aku terjun ke dunia ini tidak seberapa lama, karena hanya mengalami dan mengikuti pergolakan politik di dua era kepemimpinan yakni era kepemimpinan Gus Dur dan era kepemimpinan Megawati, full komunikasi dengan kawan-kawan sesama jurnalis putus sama sekali.


Keadaan yang tidak memungkinkan saat itu, membuat ruang lingkup kehidupanku sangat terbatas. Belum lagi aku dihadapkan dengan tanggung jawab sebagai ibu dari anak-anakku. Kesibukanku mengurusi rumah tangga dan anak-anak seolah tidak memberi ruang barang sedikit buatku untuk hanya sekedar membaca buku sekalipun. Aku pun saat itu sempat menjadi orang yang gaptek (gagap teknologi)karena tidak mengerti apa itu blog, multiply atau segala macamnya. Yang aku tahu saat itu di dunia per-internetan, hanyalah email pribadi dan chatting. Meskipun sejak enam tahun yang lalu aku sudah bergabung dengan situs jejaring sosial (Freindster), dimana aku bisa bergabung kembali dengan kawan-kawan lama namun aku memang menjadi anggota jaringan yang tidak aktif. Lantaran memang belum ada akses internet pribadi di rumah. Belum lagi, kemajuan internet dan aksesnya tidak semudah seperti sekarang ini yang penggunanya sudah merambah ke kalangan bawah.


Kemajuan teknologi yang sedemikian pesat memang membawa dampak positif bagi setiap orang dan juga aku secara pribadi. Kehidupan yang telah lama aku tinggalkan seolah mencuat di permukaan, membawa lembaran-lembaran semangat dan ide-ide yang tidak pernah habis di kepala.


Hayati M. Hamzah
Surabaya, 17 maret 2010

Sabtu, 06 Maret 2010

kematian......

Beberapa waktu terakhir ini, entah mengapa aku selalu memikirkan tentang kematian. Kematian....memang sebuah harga mati yang tidak bisa kita pungkiri sebagai makhluk hidup di dunia ini.Dan itu hanyalah persoalan waktu, yang entah kapannya kita tidak pernah tahu. Memang, dalam dua bulan terakhir ini, beberapa kali saya mendapat kabar kematian. Kematian seorang kawan. Kematian seorang tetangga. Kematian seorang guru bangsa. Bahkan kematian seekor peliharaan.

Mengingat kematian, saya menjadi ingat kawan saya Simon, kawan saya dari Universitas Moestopo Jakarta. Setahun lebih yang lalu, ketika saya bergabung dengan situs jejaring sosial facebook, saya langsung mensearch beberapa kawan lama saya yang sudah lama tidak ada kabar berita. Termasuk kawan Simon ini.

Dan memang hanya beberapa kawan lama saja waktu itu yang ketemu. Dengan kawan sesama aktifis Pers Mahasiswa seperti Abdullah (IKIP), Dadan (UMB) malah baru beberapa bulan yang lalu. Kami dulu memang sama-sama aktif di pers mahasiswa di kampus, dan juga aktif dalam Forum Pers Mahasiswa Jakarta (FPMJ), yang merupakan gabungan dari organisasi pers mahasiswa beberapa perguruan tinggi di Jakarta.

Dari kawan Dadanlah saya mengetahui bahwa Simon sudah meninggal sejak lama.
Ketika mendengar berita kematian tentang seseorang, sejumlah peristiwa masa lalu, pada saat kebersamaan dengan kawan ini seolah terekam dengan baik di kepala.

Pernah waktu itu ketika kami akan mengadakan pertemuan rutin yang saat itu akan di adakan di kampus IKIP Jakarta. Sebagai tuan rumah, kawan Abdullah menelpon kami satu persatu untuk sekedar mengingatkan pertemuan tersebut. Kebeneran saat itu bulan puasa. Sehabis sahur, Abdullah yang biasa kami panggi dullah menelpon saya dan juga kawan-kawan yang lainnya termasuk Simon. Jelas saja Simon yang memang non-muslim mencak-mencak (bukan marah tapinya loh..) karena saat itu dia sekeluarga sedang tertidur pulas.

Saya pun tidak akan pernah lupa guyonan yang dilontarkan seorang kawan Ires kepada Simon pada saat pertemuan di Kampus IISIP Jakarta. Kala itu tahun 1998, dimana beberapa elemen gerakan mahasiswa (tidak hanya pers saja) sudah bergabung. Ires, yang saat itu baru saja tiba dengan membawa satu karung rambutan bertanya kepada Simon, " Simon...sebenarnya nama lengkap loe itu siapa sih? Simontok atau Simonyet?". Kontan saja kawan-kawan yang hadir saat itu tertawa terbahak-bahak.

Kalau mungkin kawan simon saat ini masih hidup, mungkin ia pun akan ikut bergabung dengan kawan-kawan sekedar beromantisme dengan secuil perjuangan yang telah kita lakukan dahulu.

Kematian memang sebuah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh kita manusia. Dan seperti yang diungkapkan bapak Komarudin Hidayat dalam bukunya Psikologi Kematian, "Yang paling dekat dengan kita adalah sesuatu yang pasti. Dan yang pasti terjadi adalah kematian". Jadi kematian adalah sesuatu yang paling dekat dengan kita.

Semoga ketika kita meninggalkan dunia ini, bisa meninggalkan sesuatu yang baik yang bisa dilanjutkan oleh penerus kita nantinya.

Buat kawan Simon..semoga mendapat tempat yang layak disisiNya..Amien..

Hayati M. Hamzah
Surabaya, 6 maret 2010