Senin, 16 Agustus 2010

Belajar dari Faza

Ada hal yang menarik yang saya pelajari belum lama ini dari anak saya Faza. Di usianya yang sudah enam tahun, memang boleh di bilang terlambat dibandingkan anak--anak yang lain dalam satu hal "belum bisa bersepeda roda dua". Sepeda yang dibelikan papanya lebih dari satu tahun yang lalu memang sangat jarang digunakan. Pernah sekali-dua kali digunakannya untuk pergi TPA di Mushollah belakang komplek perumahan kami.Namun itupun menggunakan roda empat.

Faza memang agak terbilang malas, dan bisa jadi hal itu ditularkan oleh saya juga sebagai ibunya. Sepulang sekolah ia pasti langsung menonton televisi atau maen game di komputer. Sampai saya harus menyuapi makann siangnya sementara ia tetap asyik dengan gamenya. Kadang saya amat mengalami kesulitan untuk menyudahinya. Pada akhirnya, untuk menghentikan hobbinya maen game ataupun nonton film kartun kegemarannya, saya harus bersikap keras. Saya tahu hal ini menyakiti hati dia, tapi saya tidak punya pilihan lain. Kalau lagi sulit dikasih pengertian untuk berhenti main game, saya langsung memutus aliran listrik di dalam rumah. Kemudian membujuknya dengan memabacakan buku cerita sebagai penghantar tidur siangnya.

Bangun tidur siangpun, hal yang dilakukannya pertama kali kalau tidak menyalakan komputer, ia pasti menyalakan TV dan menonton tayangan anak2. Belum lagi tempat tinggal kami yang memang sangat sepi, membuatnyaa enggan untuk keluar rumah mencari teman. Sehingga mainannya seperti sepedanya juga, yang disediakan di rumah tidak terlalu dia perdulikan.

Namun sekitar tiga hari yanglalu dia tiba-tiba bertanya kepada saya, "Mah, kok aku belum bisa naik sepeda roda dua sih?"
Aku tersenyum mendengarnya, "Bagaimana bisa naik sepeda, kalau di coba aja ngga pernah sama faza" jawabku kala itu.
Pernah memang beberapa kali ia mencoba dibantu oleh saya atau papannya, tapi selalu putus asa dan tidak mau melanjutkan usahanya untuk sampai bisa bersepeda roda dua. Dan sayapun tidak bisa memaksa dia tentunya.

Setelah ia mengatakan itu, ternyata tanpa sepengetahuan saya ia mengeluarkan sepeda dari garasi rumah. Dan mencobanya sendiri. Saya yang kebetulan sedang asyik juga di depan komputer, mulanya tidaak menyadari hal itu. Karena saya pikir ia tidur bersama adiknya. Ketika saya tahu ia sedang berusaha sendiri mencoba mengayuh sepedanya dan mengatur keseimbangan tubuhnya, saya sangat senang dan bangga luar bisa. Terlebih lagi, tidak butuh berhari-hari ia mencoba sampai bisa, karena malamnya ia sudah lumayan lancar mengayuh sepedanya dengan menjaga keseimbangan tubuhnya diatas kendaraan roda dua itu.

Sebuah kalimat yang ia ucapkan setelah itu dengan senyum mengembang diwajahnya, "Naek sepeda itu enak yah mah" ujarnya.

Layaknya orang yang sedang kecanduan, esoknya sepulang sekolah ia langsung mengambil sepeda dan mengayuhnya mengitari beberapa blok di komplek perumahan kami. Sebenarnya saya melarangnya, karena siang itu udara lumayan panas, dan belum lagi ia sedang berlatih puasa. Tapi saya tidak bisa melarangnya kecanduan dengan mainan barunya itu. Ia kembali ke dalam rumah hanya untuk minta susu dan makan karena memang masih belum kuat puasa sehari penuh.

Setelah selesai minum susu dan makan, ia keluar lagi dan bermain sepeda lagi sampai akhirnya terjatuh dan luka bungsrut di beberapa bagian tubuhnya. Tangisnya minta ampuunnn..memecah siang itu. namun akhirnya dia diam dan tertidur.

Saya sebenernya agak khawatir, sehabis jatuh itu ia tidak mau lagi bermain sepeda. Tapi ternyata, pas bangun tidur ia tetap semangat untuk mengayuh sepedanya kembali.

Faza...seperti layaknya anak--anak yang lain, akan selalu memberi inspirasi buat kita2 yang sudah dewasa. Bahwa segala sesuatunya, apapun yang kita inginkan, bila itu diiringi dengan kemauan yang keras insya Allah akan tercapai.


Surabaya, 16 Agustus 2010