Lagi-lagi berita yang ikut mencoreng perilaku moral negeri ini mengemuka. Kalau beberapa bulan lalu, perilaku moral dan mental para pejabat yang bobrok (yang suka korup dan makan uang rakyat), sekarang giliran generasi mudanya. kali ini beritanya tentang generasi muda negeri ini, yang kebetulan adalah seorang artis papan atas, yang suka melakukan adegan porno serta mendokumentasikannya. Dalam seminggu terakhir ini, ratusan juta mata rakyat Indonesia seperti terhipnotis tentang berita ini. Berita yang sebenarnya tidak layak untuk dibesar-besarkan apalagi diulang-ulang. Karena yang mendengar, membaca dan melihat berita ini tidak hanya orang dewasa, namun ggenerasi kita yang masih di bawah umur. Belum lagi berita dan juga adegan filmnya tersebar luas di internet dan tentu saja menjadi berita yang paling hit di jejaring sosial. Dengan kemajuan teknologi dan akses internet yang sangat mudah sekarang ini, belum lagi pengguna internet sekarang yang juga sebagian besar adalah anak baru gede, maka dengan mudah video ini diakses oleh semua kalangan.
Sebenarnya bukan kali ini saja, kasus2 yang mengarah ke pornografi terjadi di negeri ini. Tidak hanya dari kalangan artis yang memang notabene kehidupannya tidak jauh dari hedonisme, mahasiswa, bahkan juga wakil rakyat kita yang duduk di senayan sana, pernah tersandung kasus ini. Masih segar ingatan kita, beberapa tahun lalu, berita heboh tentang dua mahasiswa Itenas dan Unpad Bandung, yang video mesumnya beredar di kalangan masyarakat luas. Meskipun penggunaan internet saat itu tidak semudah sekarang, juga pemakai jaringan internet juga masih sangat minim dan hanya kalangan tertentu, namun tidak sedikit generasi kita yang ikut mengkonsumsi video ini.
Mahasiswa saat itu tercoreng. "Apakah selain belajar, para generasi kita yang notabene mahasiswa ini sibuk disa engan urusan esek-esek?". Dan "Apakah bisa kita mengharapkan generasi-generasi kita bisa menggantikan posisi para pemimpin-pemimpin kita saat ini ke depan, bila saat ini disibukkan oleh percintaan dan juga esek-esek?".
Tidak hanya itu, ternyata ada juga wakil rakyat kita yang suka beradegan mesum dengan pasangan bukan resminya dan mendokumentasikannya juga. Lagi-lagi perilaku bejad para politisi kita menghiasi halaman republik ini. Ternyata, beberapa diantara mereka tidak hanya senang merampas uang rakyat, tapi juga penganut perilaku seks bebas. Sehingga menjadi sebuah pertanyaan besar di kepala kita. "Bagaimana mereka bisa mengurusi kepentingan rakyat dan hajat hidup orang banyak, bila mereka juga disibukkan dengan aktifitas percintaan dan esek-esek?".
Pergaulan bebas di kalangan pelajar, dan juga mahasiswa sudah bukan rahasia umum lagi. Banyak memang generasi kita yang mengukir prestasi di negeri ini, namun tidak kalah banyaknya generasi kita yang mengisi hari-harinya untuk hal-hal yang tidak berguna. Dan, tayangan-tayangan televisi yang tidak mendidik menurut saya juga memberi peran penting bagi rusaknya moral bangsa ini. Yang pada akhirnya, generasi kita adalah generasi yang apatis dan juga hedonis. Mereka lebih menyukai mall-mall, kafe, ketimbang perpustakaan. Mereka lebih senang melihat sinetron televisi, selain juga meniru perilaku para aktor dan aktris di dalamnya, ketimbang membaca buku. Mereka sibuk membicarakan mode pakaian, baju, rambut yang sedang ngetrend, ketimbang membicarakan pelajaran. Mereka sibuk mengeksplorasi perasaan mereka terhadap lawan jenis, ketimbang mengeksplorasi pengetahuan yang mereka miliki.
Tidak sedikit di friendlist account jejering sosial yang saya miliki, adalah ABG-ABG yang juga seorang pelajar. Karena sebagian besar memang adalah kerabat dekat. Dan tidak sedikit dari status-status yang mereka tulis di sana adalah tentang pergaulan mereka, yang tidak jauh dari pacar dan hedonisme (senang-senang). Dan tidak sedikit dari generasi pelajar kita saat ini yang memanfaatkan jejaring sosial anya untuk mencari teman kencan. Kecanggihan teknologi saat ini, dan juga kemudahan mengakses internet, tidak digunakan mereka untuk hal-hal yang positif.
Perilaku-perilaku generasi muda saat ini, menjadi PR yang penting, tidak hanya buat para orang tua, namun juga pemimpin negeri ini. Dan sedari dini, orang tua harus mengarahkan anak-anaknya ke arah yang positif. Juga ada baiknya, sedari dini para orang tua mengarahkan anak2nya ke arah logika berfikir, bukan perasaan. Karena, bila logika bermain, maka mereka akan cenderung melakukan hal-hal yang positif. Namun, bila mereka mengutamakan perasaan, maka mereka akan selalu bersenang-senang dan menghabiskan waktu untuk sebuah perasaan yang tidak jelas.
Pada akhirnya negeri ini akan mengalami apa yang dinamakan "lost generation". Karena tidak sedikit dari generasi muda kita uga adalah pencandu narkoba. Kalau boleh saya menyebut negeri ini dengan sebutan negeri "complete of crisis". Karena negeri ini tidak hanya krisis moral, juga masih banyak krisis yg dialaminya, yakni krisis kepercayaan kepada pemimpin juga wakilnya, krisis listrik, krisis pangan, dll..................
Surabaya, 12 Juni 2010
Sebenarnya bukan kali ini saja, kasus2 yang mengarah ke pornografi terjadi di negeri ini. Tidak hanya dari kalangan artis yang memang notabene kehidupannya tidak jauh dari hedonisme, mahasiswa, bahkan juga wakil rakyat kita yang duduk di senayan sana, pernah tersandung kasus ini. Masih segar ingatan kita, beberapa tahun lalu, berita heboh tentang dua mahasiswa Itenas dan Unpad Bandung, yang video mesumnya beredar di kalangan masyarakat luas. Meskipun penggunaan internet saat itu tidak semudah sekarang, juga pemakai jaringan internet juga masih sangat minim dan hanya kalangan tertentu, namun tidak sedikit generasi kita yang ikut mengkonsumsi video ini.
Mahasiswa saat itu tercoreng. "Apakah selain belajar, para generasi kita yang notabene mahasiswa ini sibuk disa engan urusan esek-esek?". Dan "Apakah bisa kita mengharapkan generasi-generasi kita bisa menggantikan posisi para pemimpin-pemimpin kita saat ini ke depan, bila saat ini disibukkan oleh percintaan dan juga esek-esek?".
Tidak hanya itu, ternyata ada juga wakil rakyat kita yang suka beradegan mesum dengan pasangan bukan resminya dan mendokumentasikannya juga. Lagi-lagi perilaku bejad para politisi kita menghiasi halaman republik ini. Ternyata, beberapa diantara mereka tidak hanya senang merampas uang rakyat, tapi juga penganut perilaku seks bebas. Sehingga menjadi sebuah pertanyaan besar di kepala kita. "Bagaimana mereka bisa mengurusi kepentingan rakyat dan hajat hidup orang banyak, bila mereka juga disibukkan dengan aktifitas percintaan dan esek-esek?".
Pergaulan bebas di kalangan pelajar, dan juga mahasiswa sudah bukan rahasia umum lagi. Banyak memang generasi kita yang mengukir prestasi di negeri ini, namun tidak kalah banyaknya generasi kita yang mengisi hari-harinya untuk hal-hal yang tidak berguna. Dan, tayangan-tayangan televisi yang tidak mendidik menurut saya juga memberi peran penting bagi rusaknya moral bangsa ini. Yang pada akhirnya, generasi kita adalah generasi yang apatis dan juga hedonis. Mereka lebih menyukai mall-mall, kafe, ketimbang perpustakaan. Mereka lebih senang melihat sinetron televisi, selain juga meniru perilaku para aktor dan aktris di dalamnya, ketimbang membaca buku. Mereka sibuk membicarakan mode pakaian, baju, rambut yang sedang ngetrend, ketimbang membicarakan pelajaran. Mereka sibuk mengeksplorasi perasaan mereka terhadap lawan jenis, ketimbang mengeksplorasi pengetahuan yang mereka miliki.
Tidak sedikit di friendlist account jejering sosial yang saya miliki, adalah ABG-ABG yang juga seorang pelajar. Karena sebagian besar memang adalah kerabat dekat. Dan tidak sedikit dari status-status yang mereka tulis di sana adalah tentang pergaulan mereka, yang tidak jauh dari pacar dan hedonisme (senang-senang). Dan tidak sedikit dari generasi pelajar kita saat ini yang memanfaatkan jejaring sosial anya untuk mencari teman kencan. Kecanggihan teknologi saat ini, dan juga kemudahan mengakses internet, tidak digunakan mereka untuk hal-hal yang positif.
Perilaku-perilaku generasi muda saat ini, menjadi PR yang penting, tidak hanya buat para orang tua, namun juga pemimpin negeri ini. Dan sedari dini, orang tua harus mengarahkan anak-anaknya ke arah yang positif. Juga ada baiknya, sedari dini para orang tua mengarahkan anak2nya ke arah logika berfikir, bukan perasaan. Karena, bila logika bermain, maka mereka akan cenderung melakukan hal-hal yang positif. Namun, bila mereka mengutamakan perasaan, maka mereka akan selalu bersenang-senang dan menghabiskan waktu untuk sebuah perasaan yang tidak jelas.
Pada akhirnya negeri ini akan mengalami apa yang dinamakan "lost generation". Karena tidak sedikit dari generasi muda kita uga adalah pencandu narkoba. Kalau boleh saya menyebut negeri ini dengan sebutan negeri "complete of crisis". Karena negeri ini tidak hanya krisis moral, juga masih banyak krisis yg dialaminya, yakni krisis kepercayaan kepada pemimpin juga wakilnya, krisis listrik, krisis pangan, dll..................
Surabaya, 12 Juni 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar